2 Waktu Rasululloh Melarang Jima’

Pada dasarnya, pasangan suami istri dibolehkan melakukan Jima kapan saja, baik itu di malam hari, siang hari maupun pagi hari, jima’ merupakan salah satu bentuk ibadah yang hanya boleh dilakukan setelah menikah, bahkan apabila diniatkan Ikhlas untuk meraih pahala maka akan bernilai sedekah dan mendapatkan ganjaran di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “hubungan intim kalian (yaitu suami istri) termasuk sedekah.” (H.R. Muslim)

Namun, ada waktu khusus yang mana diharamkan melakukan Jima’, apabila melakukannya maka akan bernilai dosa,

Pertama di siang hari saat bulan suci Romadhon.

Puasa Romadhon wajib bagi setiap muslim yang sudah balig, berakal, dalam keadaan sehat dan tidak sedang melakukan Safar. Saat puasa melakukan Jima’ menjadi terlarang bahkan menjadikan batalnya puasa. pelanggaran ini dihukumi dengan hukuman yang berat dalam kafaroh.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: “suatu hari kami duduk di bersama Nabi SAW, kemudian datanglah seorang pria menghadap nabi, pria itu mengatakan, ‘wahai Rasulullah, celaka aku’, Rasulullah berkata: ‘apa yang terjadi padamu’, pria itu menjawab ‘aku telah menyetubuhi istri, Padahal aku sedang puasa’, kemudian Rasulullah bertanya, ‘apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?’ pria itu menjawab ‘Tidak’ Rasulullah bertanya lagi ‘Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut’ pria itu menjawab ‘tidak’ Rasulullah bertanya lagi ‘apakah kau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin’ pria itu menjawab ‘Tidak’ kemudian Abu Hurairah ra berkata ‘nabi lantas diam, tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah 1 wadah kurma kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, kemudian Rasulullah berkata kepada pria tadi ‘ambillah dan bersedekahlah dengannya’ lantas pria itu mengatakan ‘Apakah kurma ini akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dari ku, demi Allah tidak ada di ujung timur hingga ke ujung barat kota Madinah yang lebih miskin dari keluargaku, kemudian Rasulullah berkata ‘berilah makanan tersebut pada keluargamu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Melakukan Jima di siang hari bulan Romadhon adalah perbuatan dosa besar dan pelakunya wajib membayar kaffarah seperti yang disebutkan dalam hadits, membebaskan 1 orang budak, Jika ia tidak memperolehnya, maka ia harus berpuasa selama 2 bulan berturut-turut, jika ia tidak mampu melakukannya, maka ia harus memberi makan kepada 60 orang miskin.

Kedua saat istri sedang haid

Diharamkan melakukan Jima saat istri sedang haid, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakan itu adalah sesuatu yang kotor, Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid. Dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci, apabila mereka telah suci maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al baqarah:222)

para ulama sepakat bahwa Jima saat haid hukumnya haram, Dalam Hadis disebutkan barangsiapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya maka ia telah gugur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.” (HR. Tirmidzi Ibnu Majah)

Hadis ini tidak hanya menerapkan larangan jima’ saat haid tetapi juga menerangkan larangan jima’ melalui dubur. Tidak boleh sama sekali melakukan Jima’ melalui dubur apapun keadaannya.

Rasulullah bersabda: “benar-benar terlaknat orang yang menyetubuhi istrinya diduburnya.” (HR. Ahmad)

Istri yang sedang haid masih boleh melayani suami dengan cara apa saja asal bukan jima’, Rasulullah bersabda: “lakukanlah segala sesuatu selain Jima” (HR. Muslim)

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *