MAKALAH PERNIKAHAN LAKI-LAKI MUSLIM DENGAN WANITA NON MUSLIM

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Pernikahan merupakan bagian dari ajaran Islam. barang siapa yang menghindari permenikahan, berarti ia telah meninggalkan sebagian dari ajaran agamanya. Selain itu, permenikahan dapat menghindari diri dari perbuatan zina. Pernikahan yang sedang marak terjadi di Indonesia saat ini adalah permenikahan  beda agama, yaitu perniakahan yang dilakukan antara laki-laki muslim dengan perempuan non muslim.

Di dalam makalah yang sangat sederhana ini, setidaknya ada beberapa poin pembahasan yang menjelaskan apa panadangan UU dan Fiqh klasik/hukum islam mengenai pernikahan beda agama ini.

 

  1. Rumusan Masalah
  2. Apakah Batasan-batasan dalam pernikahan agama Islam?
  3. Apakah hukum pernikahan laki-laki muslim dengan wanita non muslim?

 

  1. Tujuan
  2. Untuk mengetahui pernikahan batasan-batasan dalam pernikahan agama Islam
  3. Untuk Mengetahui larangan-larangan dalam pernikahan

BAB II

PENEGASAN ISTILAH

  1. Nikah (Pernikahan)

Etimologi

Nikah dalam Bahasa Arab adalah bentuk masdar dari (نكح) yang berarti : jima’, akad.

Terminologi:

Ikatan (akad) permenikahan yg dilakukansesuai dng ketentuan hukum dan ajaran agama (KBBI)

Akad yang di dalamnya terdapat lafadz Pernikahan secara jelas, agar diperbolehkan bercampur. (Madzab Hambali)

  1. Non Muslim (kafir)

Kafir adalah Seseorang yang mengingkari tiga pokok aqidah dalam islam. Termasuk golongan ini: Mulhid, Musyrik, watsani, majusi dll (As-Syaikh Sholih )

 

BAB III

PERNIKAHAN MUSLIM DENGAN NON MUSLIM

 

  1. Pernikahan Anatara Laki-Laki Muslim Dengan Perempuan Non Muslim.

Dalam hal permenikahan antara laki-laki muslim dengan perempuan non muslim dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu permenikahan antara laki-laki muslim dengan perempuan musyrik dan permenikahan antara laki-laki muslim dan perempuan kitabiyah (yahudi dan nasrani).

Mengenai permenikahan antara laki-laki muslim dengan perempuan musyrik, para fuqaha telah sepakat bahwa hukumnya haram. Yang didasarkan pada:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ…

“dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman, sesungguhnya budak wanita tyang mukmin lebih baik dari wanita-wanita musyrik, walaupun kamu sangat tertarik kepadanya,…”(Qs.2:221)

Menurut jumhur ulama, yang dimksud perempuan syirik dalam ayat itu adalah perempuan-perempuan selain perempuan kitabiyah.

Menurut Ibnu Jarir at Thabari dan Muhammad Abduh mengemukakan bahwa yang dimaksud perempuan musyrik yang haram dinikahi adalah yang musyrik dari kalangan bangsa arab.

Ahmad Azhab Basyir mengemukakan bahwa yang dimaksud perempuan musyrik dalam kandungan ayat tersebut adalah perempuan yang menyembah patung dan berhala sebagai tuhan. kemudian maksud dari ayat tersebut diperluas pengertian mencakup peremuan-perempuan yang menganut kepercayaan animisme, atheisme, politisme, dll.

Dari beberapa uraian di atas, perbedaan pandangan terhadap makna syirik menurut pandangan jumhur ulama lebih releva dengan kondisi masa kini, meskipun ayat itu khusus untuk penyembah berhala, akan tetapi ujud dari berhala itu pun diperluas meliputi perempuan-perempuan yang memiliki kepercayaan terhadap kekuatan lain diluar kekuasaan Allah.

Ketika Ibnu Umar ditanya tentang nikah dengan perempuan nasrani, ia menjawab: sesungguhnya Allah SWT mengharamkan perempuan-perempuan musyrik bagi kaum muslimin. Umar bin Khatab melarang laki-laki muslim terutama para pemimpinnya menikah dengan perempuan non-muslim (Kitabiyah).

Adapun hikmah larangan dari permenikahan antara laki-laki muslim dengan perempuan syirik disebabkan antara islam dengan musyrik itu terdapat perbedaan pandangan hidup yang sangat jauh dan sulit untuk dipertemukan, sehingga sulit untuk mewujudkan keharmonisan rumah tangga. Sebab salah satu tujuan permenikahan adalah mewujudkan keluarga yang sakinah, dan apabila permenikahan dibangun atas dasar perbedaaan dan permusuhan agama, jelas tidak mungkin mewujudkan keluarga yang sakinah.

Dalam firman-nya :

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ…

“dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita muslim) sebelum mereka beriman, sesungguhnya budak yang beriman lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik bagimu….”(Qs.2:21)

Doctor Yusuf al-Qardhawi (melarang / mengharamkan pernikah beda agama). Dalam bukunya Halal dan Haram dalam Islam menyatakan, laki-laki muslim di negri tersebut haram menikahi perempuan non muslimah. Karena akan merusak perempuan-perempuan muslimah.

Menurut Yusuf al-Qardhawi, ada beberpa kemudharatan dengan adanya permenikahan dengan perempuan kitabiyah:

  1. Akan banyak terjadi pernikahan-pernikahn dengan perempuan non-muslim.
  2. Suami akan terpengaruh dengan agama istrinya, dan anak-anaknya.
  3. Akan menyulitakan hubungan suami istri dan juga pendidikan anak-anaknya.

  1. Pernikahan Antara Seorang Pria Muslim Dengan Wanita Kitabiyah

Adapun permenikahan antara laki-laki muslim dengan perempuan kitabiyah. agak sedikit berbeda dengan permenikahan antara laki-laki muslim dengan perempuan musyrik. Permenikahan antara laki-laki muslim dengan perempuan kitabiyah ini dikalangan para ulama ada yang mengizinkan ada pula ayang tidak mengizinkan karen persamaan kedudukan perempuan kitabiyah itu dengan perempuan musyrik.

Jumhur ulama memandang bahwa laki-laki muslim diizinkan (boleh) menikah dengan perempuan kitabiyah, didasarkan pada firman Allah:[3]

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ

 

“…dan dihalalkan bagimu menikahi wanita-wanita yang baik dari orang-orang yang mukmin dan wanita-wanita yang baik-baik dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu,…”.(Qs.5:5)

Selain pada ayat tersebut, juga didasari pada perbuatan Nabi dan sebagian dari sahabat yaitu permenikahan Rasulullah dengan Mariah Al Qibtiyah yang beragama nasrani.

Ahmad Azhar Bayir mengemukakan bahwa Islam mengizinkan laki-laki muslim menikahi perempuan kitabiyah disebabkan adanya titik kesamaan yang terdapat di antara ajaran Islam dengan ajaran agama mereka, yaitu sama-sama agama samawi, yang berasal dari satu sumber (wahyu Illahi).

Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Nomor : 4/MUNAS VII/MUI/8/2005

Tentang

PERMENIKAHAN BEDA AGAMA

Majelis Ulama Indonesia (MUI), dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005 M setelah:[4]

MENIMBANG :

  1. Bahwa belakangan ini disinyalir banyak terjadi permenikahan beda agama;
  2. Bahwa permenikahan beda agama ini bukan saja mengundang perdebatan antara sesama umat islam, akan tetapi juga sering mengundang keresahan ditengah-tengah masyarakat;
  3. Bahwa ditengah-tengah masyarakat telah muncul pemikiran yang membenarkan permenikahan beda agama dengan dalil hak asasi manusia dan kemaslahatan;
  4. Bahwa untuk mewujudkan dan memelihara ketentraman kehidupan berumahtangga MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang permenikahan beda agama untuk di jadikan pedoman.

MENGINGAT:

  1. Firman Allah SWT:
  2. dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), Maka menikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil
  3. Hadist Rosullullah SAW antara lain yang artinya :

Wanita itu (boleh) dinikahi karna 4 hal:

1)   Karena harta

2)   Karena (asal ussul) keturunan-nya

3)   Karena ke cantikanya

4)   Karena agama

Maka hendaklah berpegang teguh (dengan perempuan) yang memeluk agama Islam (jika tidak), akan binasalah ke dua tangan–MU. (Hadist riwayat Muttafaq Allaih dari Abi Huroiroh ra.)

  1. Kaidah fiqih :

mencegah kemafsadatan lebih didahukukan (di-utamakan) dari pada ke maslahatan.

  1. Qa’idah sadd Al –zari’ah

 

MEMPERHATIKAN :

  1. Fatwa MUI dalam Munas 2 tahun 1400/1980 tentang permenikahan campuran.
  2. Pendapat sidang komisi C bidang fatwa pada MUNAS ke VII MUI 2005.[5]

MENETAPKAN:FATWA TENTANG BEDA AGAMA

  1. Permenikahan beda agama adalah haram dan tidak sah.
  2. Permenikahan laki-laki muslim dengan wanita Ahlu kitab, menurut qoul mu’tamad, adalah haram dan tidak sah.

 

  1. Permenikahan Antara Orang Yang Berlainan Agama Menurut Hukum Positif Islam Di Indonesia.

Berdasarkan pasal 66 UU No. 1/1974, maka semua peraturan yang mengatur tentang permenikahan sejauh telah diatur dengan UU No. 1/1974 ini, tidak berlaku termasuk peraturan permenikahan percampuran.

Pasal 1 peraturan permenikahan campuran merumuskan bahwa permenikahan campuran ialah permenikahan antara orang-orang di indonesia yang tunduk pada hukum yang berlainan.

pasal 1 peraturan permenikahan campuran berbeda dengan pasal 57 No. 1/1974 yang merumuskan dengan jelas bahwa permenikahan campuran itu ialah permenikahan antara dua orang yang di indonesia tunduk pada hukum yang berlainan karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan indonesia.

Jelaslah bahwa berdasarkan atas pasal 57 UU permenikahan, maka permenikahan antara orang-orang yang berlainan agama di indonesia bukanlah permenikahan campuran. karena itu, apabila UU permenikahan dilaksanakan secara murni dan konsekuen, seharusnya setiap pengajuan permohonan antara orang yang berbeda agama dan memandangnya sebagai permenikahan campuran yang diatur dalam pasal 60-62 UU Permenikahan jelas bahwa permenikahan campuran hanya diberlakukan untuk permenikahan antara orang yang berbeda kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan indonesia.

BAB III

KESIMPULAN

Islam telah memberikan aturan yang jelas mengenai pernikahan. Hal tersebut karena pernikahan merupakan ibadah penting yang tidak hanya menyanggkut masalah fiqih. Pernikahan juga menyangkut masalah sosial, budaya dan politik. Seorang muslim harus memandang pernikahan dari arah yang komprehesif. Apalagi jika menyangkut pernikahan dengan non muslim.

Adapun hukum pernikahan laki-laki muslim dengan wanita non muslim itu adalah sebagai berikut:

  1. Suami Muslim, istri Kafir = Haram
  2. Suami Muslim, istri Kitabiyah = Boleh

Meskipun seorang laki-laki Muslim boleh menikahi kitabiyah tetapi bukan berarti dia bebas memilih perempuan kitabiyah yang diinginkannya. Ada beberapa ketentuan yang wajib diperhatikan atau dijaga ketika seorang lelaki muslim menikahi seorang kitabiyah. Meskipun menikahi wanita-wanita kitabiyah diperbolehkan agama tetapi karena banyak madlarat yang ditimbulkannya maka sudah seharusnya seorang lelaki muslim lebih memilih perempuan muslim dari pada wanita ketabiyah.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

K.H. Ma’ruf Amin, M. Ichahan Sam, H. Hasanudin, M. Asrorun Ni’am Soleh’’himpunan fatwa majelis ulama Indonesia. Jakarta 2011 cet-15, erlangga.

Drs.A. Jamil, Masailil fiqh.Gunung pesagi Bandar Lampung, cet-1 tahun 1993.

Yusuf Qardlawi, Syekh Muhammad. 1976. Halal dan Haram dalam Islam. Bangil: PT. Bina Ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *