Bab Thoharoh (Bersuci), Air Yang Boleh Untuk Bersuci

Dasar pembahasan BAB Thoharoh kitab AL UMM adalah s almaidah 5:ayat 6
(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ)
. Hai orang2 yg beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka BASUHlah mukamu (faghsiluu wujuuhakum)
dan tanganmu sampai dengan siku (wa adiyakum ilal maroofiq)
dan sapulah kepalamu (wamsakhuu bi ru-uusikum),
dan kakimu hingga kedua matakaki (wa arjulakum ilal ka’baiin) ….
…..dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
.
TENTANG AIR UNTUK BERSUCI
.
*Imam Syafi’i berkata: Alloh subhanahu wata’ala yang Maha Suci dan Maha Tinggi, Dialah yang menciptakan air bagi mahlukNya. Manusia tidak memiliki kemampuan sedikitpun dalam penciptaannya.
Dia telah menyebutkan air secara umum, maka didalamnya termasuk air hujan, air sungai, air sumur, air dari celah2 bukit, air laut baik yang asin maupun yang tawar.
Semua jenis air itu dapat digunakan untuk bersuci bagi yang hendak berwudhu atau mandi.
Makna lahir ayat diatas mengisyaratkan bahwa semua jenis air adalah SUCI baik air laut maupun air yang lainnya.
.
**Imam Syafi’i berkata: Telah diriwayatkan Abu Huroiroh ra bahwa seseorang bertanya kepada Nabi s.a.w. “Wahai Rosululloh, kami pernah berlayar sementara memiliki sedikit air. Apabila kami berwudu dengannya kami akan kehausan, maka apakah kami boleh berwudu dengan air laut?
Nabi s.a.w. menjawab “huwatthohuuru maa’uhul hillu maituhu” artinya laut itu airnya suci dan halal apa yang mati (padanya).
.
***Imam Syafi’i berkata:
dari Abu Huroiroh: man-lam yath-harhul bahro falaa thoharohulloh, barang siapa tidak dapat disucikan denga air laut, maka Alloh tidak menyucikannya
.
****Imam Syafi’i berkata:
Setiap air itu suci sebelum dicampuri najis. Tidak ada yang membersihkan dan menyucikan kecuali air dan tanah, baik air embun, salju dicairkan, air dipanaskan atau tidak dipanaskan, karena air memiliki sifat untuk menyucikan dan api tidak dapat merubahnya menjadi najis.
Saya (Imam Syafi’i) tidak memandang makruh menggunakan air yang dipanaskan dengan sinar matahari untuk bersuci, hanya saja TIDAK BAIK DARI SISI KESEHATAN, karena hal itu dapat menyebabkan PENYAKIT BELANG (KUSTA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *