Guru Pertama Imam Ahmad Bin Hanbal

Shafiyyah binti Maimunah Asy-Syaibani, Guru Pertama Imam Ahmad bin Hanbal*
“Di balik kesuksesan laki-laki, ada wanita hebat di belakangnya.” Memang benar, ketika seorang laki-laki mencapai prestasi gemilang, selalu ada perempuan hebat di sisinya.
Kita tentu sudah pernah mendengar bagaimana kezuhudan Imam Hasan Al Basri terbentuk karena didikan ibu susunya, Ummul Mukminin Ummu Salamah ra..
Kita pun sudah pernah mengagumi kesabaran Anas bin Malik ra. yang juga berkat peran besar ibundanya, Ummu Sulaim.
Kita juga tentu sangat familiar dengan perjalanan hidup Rasulullah saw. yang menjadi yatim piatu sejak kecil, tetapi tumbuh menjadi pribadi saleh, kuat, dan luar biasa. Ada peran Fatimah binti Asad sebagai pengganti ibunda beliau.
Islam memberikan penghormatan dan peran yang sangat besar terhadap perempuan. Di antara kemuliaan dan peran bagi perempuan itu ialah mencetak dan menyiapkan generasi unggul. Teladan itu sudah tercatat dalam lembar sejarah peradaban Islam.
Apa yang pernah dikatakan Hafiz Ibrahim, penyair kenamaan asal Mesir sangatlah tepat. “Ibu adalah madrasah, yang apabila kau siapkan dengan baik, berarti engkau menyiapkan generasi terdidik.”
Ungkapan itu tercermin dalam kisah Imam Ahmad bin Hanbal dengan gurunya yang merupakan ibundanya sendiri, Shafiyyah binti Maimunah binti Abdul Malik asy-Syaibani.
Sosok Shafiyyah binti Maimunah
Tidak banyak kisah yang menceritakan silsilah Shafiyyah. Ia menikah di usia muda, yaitu 20 tahun. Ketika suaminya meninggal di medan perang, ia memutuskan tidak akan menikah lagi dan fokus membesarkan anaknya seorang diri.
Imam Ahmad lahir pada bulan Rabiulawal 164 Hijriah. Ayahnya, Muhammad bin Hanbal, bekerja sebagai prajurit Khalifah. Ia meninggal dunia tiga tahun setelah kelahiran Ahmad.
Ia mewariskan sebuah rumah yang menjadi sandaran hidup bagi Shafiyyah binti Maimunah dan Ahmad kecil. Di rumah itulah Shafiyyah merawat Ahmad sebagai single parent.
Tatkala Ahmad kecil semakin dewasa dan kebutuhannya kian meningkat, Shafiyyah mulai merasakan kesulitan hidup.
Tekanan dan impitan hidup tidak menjadikannya berputus asa, bahkan ia menolak menikah lagi demi mencurahkan seluruh waktunya untuk merawat anak semata wayangnya.
Ia merawat Ahmad dengan baik. Shafiyyah menitipkan anaknya kepada seorang guru Al-Qur’an untuk mengajarinya bacaan Al-Qur’an.
Kecerdasan Imam Ahmad pun mulai menonjol. Ia sudah hafal Al-Qur’an di usia yang masih belia.
Shafiyyah selalu menuturkan berbagai kisah, peristiwa, dan aksi-aksi heroik yang ia hafal, hingga nilai-nilai Islam tertanam kuat dalam diri Ahmad sejak kecil. Dia senantiasa menceritakan keutamaan Rasulullah saw. dan para Sahabat.
Shafiyyah pula yang memilihkan tempat belajar Al-Qur’an bagi Ahmad. Dia juga yang memilihkan guru-guru untuk Ahmad agar belajar hadis dan fikih.
Suatu hari, Imam Ahmad bin Hanbal menuturkan, “Saat hendak pergi belajar hadis lebih awal, ibuku meraih bajuku dan berkata, ‘Jangan pergi dulu, hingga muazin mengumandangkan azan, atau hingga orang-orang keluar.’”
Imam Ahmad pernah bercerita, saat ia masih kecil, ketika suara azan berkumandang, ibunya selalu berbisik lembut di telinganya, “Wahai Ahmad, bangunlah. Sudah azan subuh.”
Tak lama kemudian, Imam Ahmad terbangun, lalu beliau mendapati ibunya sedang mempersiapkan air wudu untuk dirinya.
Setelah berwudu, ibunya selalu memakaikannya pakaian dan mengantarkannya pergi ke masjid. Hal itu ia lakukan mengingat lokasi masjid sangat jauh dan jalan menuju ke sana gelap gulita.
Selama perjalanan itulah, ibunya selalu menggandeng tangannya.
Kecintaan Imam Ahmad pada sang Ibunda
Imam Ahmad berusaha hidup mandiri. Ia berusaha sekuat tenaga membalas jasa-jasa sang ibunda atas kesabaran dan pengorbanannya.
Ia bertekad menjadi pelajar terbaik setelah merasa dirinya menjadi beban berat bagi ibunya, meskipun ia sudah membalas jasa ibunya dengan baik, yaitu mencurahkan waktu untuk belajar dan menjadi murid teladan di kalangan para guru dan teman-temannya.

Kecintaan Imam Ahmad pada sang ibunda tampak dari kepatuhannya mendengar perkataan ibunya. Suatu ketika, ada seorang ulama besar singgah di tepi sungai tepat berhadapan dengan rumah Ahmad bin Hanbal.
Air sungai Tigris kemudian meluap hingga Khalifah Harun Ar Rasyid meninggalkan rumah dan membawa keluarganya naik ke perahu miliknya.
Namun, para penuntut ilmu segera berlarian menghampiri ulama itu di tepi sungai lainnya.
Ahmad bin Hanbal dipanggil teman-temannya untuk menyeberangi sungai, lantas Ahmad menyahut, “Ibuku melarangku untuk menyeberangi air bah ini.”
Imam Ahmad bin Hanbal juga berguru kepada Abdullah bin Al-Mubarak, seorang fakih yang luas ilmunya dan juga kaya.
Ibnul Mubarak berusaha membantu Ahmad bin Hanbal dengan harta, namun Ahmad menolak dan berkata, “Aku berguru untuk menimba fikihmu, bukan hartamu.”
Shafiyyah memberi pesan kepada Imam Ahmad tatkala putranya itu hendak berangkat menuntut ilmu, “Wahai Anakku! Apabila Allah telah menyerahkan sesuatu, maka Dia tidak akan menyia-nyiakan selama-lamanya. Maka aku serahkan engkau kepada Allah yang tidak pernah menyia-nyiakan sesuatu apa pun.”
Khatimah
Kisah ini memberi pesan penting. Sosok ibu cerdas nan tangguh mampu mendidik anaknya menjadi ulama ahli hadis dan menjadi imam besar empat mazhab.
Shafiyyah binti Maimunah juga rela melepas putranya berkelana menuntut ilmu kepada para ulama.
Ia benar-benar telah menyiapkan generasi unggul sejak dini. Mendidiknya dengan akidah Islam, memperhatikan makanannya, memilihkan guru bagi anaknya, mendoakannya, mengenal potensi anaknya dengan baik, dan mengikhlaskan anaknya mencari ilmu.
Sungguh teladan ibunda yang patut dijadikan inspirasi bagi bunda-bunda yang menginginkan generasi terbaik yang akan menjadi pionir bagi peradaban Islam. [MNews/Chs]
Sumber : Muslimahnews.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *