Ketika Anak Pengen Punya Sahabat

Oleh : Nabila Ummu Anas

Berteman adalah fitrahnya manusia. Manusia, termasuk anak, tidak suka sendirian, apalagi anak yang memasuki usia bermain dan sekolah. Mereka ingin ada teman ketika bermain. Tidak hanya bermain bersama, anak juga ingin berbagi cerita atau kadang curhat dengan temannya.

Sahabat atau teman akrab biasanya menjadi tempat untuk mencurahkan apa yang ada dalam benak atau perasaan seseorang, tak terkecuali anak. Ini adalah wujud dari penyaluran garizah baqa’ (naluri mempertahankan diri). Dengan sahabatnya, anak bisa meluapkan perasaan, didengar, mendapatkan perhatian dan penghargaan, eksistensi diri, dan sebagainya.

Orang tua harus peka melihat kondisi anak yang mengindikasikan dia pengen punya sahabat. Sebab, teman atau sahabat akan berpengaruh terhadap kehidupan anak.

Banyak anak yang lebih percaya dan sangat solider dengan teman atau sahabatnya dibandingkan terhadap saudara kandungnya atau orang tuanya sendiri. Bahkan, dia bisa memaklumi kesalahan atau kekurangan sahabatnya. Sementara jika kesalahan atau kelemahan ada pada orang tua atau saudara kandungnya, dia tidak bisa menerima atau justru protes sejadinya.

Ibu, Jadilah Sahabat Pertama Anak
Ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak, sejak dia dilahirkan, diasuh, dan dipelihara oleh ibu. Bahasa kasih sayang ibu tidak hanya secara verbal, tetapi juga ekspresi wajah, belaian, dan dekapan ibu adalah modal eratnya persahabatan ibu dan anak kelak.

Sebagai sahabat, ibu berperan besar dalam membentuk kepribadian Islam dan mengembangkan potensi anak. Potensi akal, jasmani, dan naluri anak akan diarahkan menuju sosok muslim sejati yang cerdas dan taat beragama.

Ayah juga bisa menjadi sahabat anak. Namun, porsi waktu ayah yang lebih besar dalam mencari nafkah, terkadang menyebabkan hanya ada sedikit waktu membersamai anak. Yang jelas, orang tua harus kompak akan apa yang mereka harapkan dari persahabatan orang tua dengan anak.
Rasulullah saw. bersabda,
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan yang fitrah/suci (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari)

Sahabat Bisa Memberi Warna bagi Kehidupan Anak.
Rasulullah saw. bersabda,
“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman.“ (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Orang tua harus menyadari bahwa siapa pun sahabat anak akan berkontribusi dalam pembentukan kepribadiannya. Kebiasaan-kebiasaan baik yang telah terbentuk dari rumah akan makin dikuatkan oleh sahabatnya.

Begitu pula sebaliknya, anak saleh bentukan dari rumah juga akan memengaruhi teman-teman pergaulannya. Anak terbiasa menasihati sahabatnya ketika mereka lalai atau melanggar syariat. Kepribadian Islam akan membuat anak menonjol di antara teman-temannya, bahkan menjadi magnet kebaikan bagi mereka.
Rasulullah saw. bersabda,
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu, engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap.” (HR Imam Bukhari)

Dari Abu Juhaifah Wahb bin Abdullah ia berkata,
“Suatu ketika Nabi saw. pernah membantu hubungan pertemanan antara Salman dan Abu Darda’. Saat Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang kusut. Salman lantas bertanya, “Mengapa engkau dalam keadaan seperti itu?” Istri Abu Darda’ menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan (zuhud).”

Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuat suatu makanan untuk Salman. Abu Darda’ lalu berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa.” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau juga makan.” Maka Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan salat malam. Salman yang melihatnya kemudian berkata, “Tidurlah.” Abu Darda’ pun tidur kembali.

Lalu saat Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan salat malam, Salman lagi-lagi berkata, “Tidurlah!” Hingga pada akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah!” Lalu mereka salat bersama-sama.
Setelah itu, Salman berkata kepada Abu Darda’, “Sesungguhnya bagi Tuhanmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”
Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi saw. untuk menceritakan apa yang baru saja terjadi. Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Salman itu benar.” (HR Imam Bukhari)

Membimbing Anak ketika Bersahabat
Anak ingin memiliki sahabat yang baik, begitu pula anak orang lain terhadap anak kita. Mereka juga ingin anak kita adalah sahabat yang baik bagi anak mereka. Anak-anak muslim adalah sahabat yang baik satu sama lain. Ajarkan anak untuk mengetahui hak dan kewajiban sesama muslim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau saw. bersabda, ”Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR Muslim)

Anak juga mengetahui tata pergaulan yang Islam ajarkan. Menutup aurat, tidak berteman akrab dengan lawan jenis, tidak berkhalwat, tidak bermain yang membahayakan diri dan orang lain, adalah ajaran Islam yang harus anak pahami.

Menegur, menasihati, ibadah berjemaah, berakhlak terpuji, dan bertutur kata baik hendaknya menghiasi persahabatan anak.
Rasulullah saw. bersabda,
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *