Makalah Hukum Homoseksual dan Lesbian

BAB I

Pendahuluan

 

A.    Latar Belakang

Hukum Islam bersifat universal, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia salah satunya dalam hubungan manusia dengan manusia. Dalam prakteknya, hukum Islam senantiasa memperhatikan kemaslahatan manusia, dangan mengajak pengikutnya untuk mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hukum Islam akan menindak keras dan tegas kepada para pelaku yang melanggar ketentuan dan ketetapan-Nya sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran dan Hadist.

Islam mengakui bahwa manusia memiliki hasrat yang sangat besar untuk melangsungkan hubungan seks. Oleh karena itu hukum Islam mengatur penyaluran hubungan biologis tersebut melalui perkawinan yang telah ditetapkan berdasarkan Al-Quran maupun Hadist Nabi, yang bertujuan untuk menciptakan kebahagiaan dan memadukan cinta dan kasih sayang antara dua insan yang berlainan jenis. Walaupun Islam telah mengatur hubungan biologis yang halal, namun penyimpangan tetap saja terjadi, salah satunya berupa homoseksual dan lesbian. Semua ini terjadi karena dorongan biologis yang tidak terkontrol dengan baik.

Homoseksual merupakan perbuatan asusila yang sangat terkutuk dan menunjukkan pelakunya seorang yang mengalami penyimpangan psikologis dan tidak normal. Berbicara tentang homoseksual di negara-negara maju, maka kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Di negara-negara tersebut kegiatannya sudah dilegalkan. Yang lebih menyedihkan lagi, bahwa ‘virus’ ini ternyata juga telah mewabah di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Masalah homoseksual dan lesbian di Indonesia kini memasuki babak-babak yang semakin menentukan. Sebagai sebuah negeri Muslim terbesar, Indonesia menjadi ajang pertaruhan penting perguliran kasus ini. Anehnya, hampir tidak ada organisasi dan tokoh umat yang serius menanggapi masalah ini. Padahal, ibarat penyakit, masalahnya sudah semakin kronis, karena belum mendapatkan terapi yang serius

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa Pengertian Homoseksual dan Lesbian ?

2.      Bagaimana Sejarah Homoseksual (Umat yang terkenal Homoseksual) ?

3.      Apa Hukum Perbuatan Homoseksual dan Lesbian ?

4.      Apa Dampak Perilaku Homoseksual dan Sebab Lesbian ?

5.      Bagaimana Cara Mengatasi dan Mencegah Perilaku Homoseksual dan Lesbian ?

  

BAB II

Pembahasan

 

A.    Pengertian Homoseksual dan Lesbian

Istilah Homoseksual berasal dari bahasa Inggris “Homosexual” yang berarti sifat laki-laki yang senang berhubungan seks dengan sesama lelaki.
Sedangkan Lesbian, berarti sifat perempuan yang senang berhubungan seks dengan sesamanya pula.

Istilah ini dijumpai dakam agama Islam sebagai  Liwath  yang diartikan secara singkat laki-laki yang selalu mengumpuli sesamanya, sedangkan Lesbian dijumpai dengan istilah Ash-sahaaq yang dapat diartikan secara singkat dengan Perempuan yang selalu mengumpuli sesamanya.

Homoseksual dilakukan dengan cara memasukkan penis kedalam anus Sedangkan lesbian dilakukan dengan cara melakukan masturbasi satu sama lain atau dengan cara lainnya untuk mendapatkan orgasme (puncak kenikmatan atau climax of the sex act).[1]

Maka dalam hal ini dapat ditarik suatu pengertian  bahwa homoseksual adalah kebiasaan seorang laki-laki melampiaskan  nafsu seksualnya pada sesamanya sedangkan lesbian adalah kebiasaan seorang perempuan melampiaskan  nafsu seksualnya pada sesamanya.[2]

 

B.     Sejarah Homoseksual (Umat yang terkenal Homoseksual)

Di dalam Al-Qur’an, ada diceritakan tentang sifat-sifat kaum (umat) Nabi Luth yang terkenal dengan Homoseksual. Mereka tidak mau mengawini perempuan, kerana mereka sangat gemar melakukan hubungan seks dengan sesama lelaki.

Tatkala Nabi Luth menawarkan beberapa orang perempuan cantik untuk dikawini, maka mereka menolaknya dengan mengatakan: kami sama sekali tidak menginginkan perempuan, kerana kami sudah memiliki pasangan hidup yang lebih baik: yaitu laki-laki yang berfungsi sebagai teman hidup dan dapat membantu kelangsungan hidup kami, ia pun boleh digunakan untuk melampiaskan nafsu seksual. Oleh kerana itu, ketika Nabi Luth didatangi oleh para Malaikat utusan Allah yang tampan menyamar sebagai pemuda rupawan, maka ia merasa cemas karena mereka mengira bahwa mereka (Malaikat) itu adalah manusia biasa yang menemuinya.

Timbulnya kerisauan di hati Nabi Luth, karena dibayangkannya bahwa tetamu-tetamunya itu akan menjadi rebutan yang hebat dikalangan kaumnya karena mereka sangat gemar terhadap pemuda-pemuda yang kacak dan tampan. Ia merasa bahwa gejolak perasaan sukakan lelaki yang ditimbulkan oleh kaumnya dalam hal tersebut, sukar untuk diatasinya dan pasti banyak akan menimbulkan korban jiwa, di samping itu juga Nabi Allah Luth merasa amat malu terhadap tetamunya itu.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menerangkan sifat-sifat kaum Nabi Luth, antara lain :

Artinya: “Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, Dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”. (Asy-Su’araa’, 165-166)

 Dan tatkala datang utusan-utusan kami (para Malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: saat ini adalah hari yang sangat sulit. Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji (Homoseksual). Luth berkata: hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama) ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah diantaramu seorang yang berakal? Mereka menjawab: sesungguhnya kamu telah tahu, bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap puteri-puterimu; dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” (Q.S Huud, 77-79)

Jadi, perbuatan Homoseksual itu terjadi semenjak dahulu kala hingga sekarang ini. Perbuatan ini ini banyak berlaku dimasyarakat Negara sekular atau di Negara Barat…dengan peruntukan undang-undang yang melindungi mereka. atas nama hak kebebasan manusia.

Perbuatan Homoseksual tersebut tidak dilarang oleh undang-undang di Negara yang berfahaman sekular, dan tidak dikategorikan sebagai pelanggaran tata susila. Dan kalaupun ada larangan bagi mereka itu hanya bertujuan untuk membenteras kemungkinan terjadinya beberapa macam penyakit yang sering timbul dari perbuatan Homoseksual dan Lesbian; misalnya penyakit kanker kelamin, AIDS dan sebagainya. Oleh karena itu perbuatan Homoseksual dan Lesbian paling banyak di amalkan di negara Barat, yang budaya Homoseksual dan penyakit berbahaya yang ditimbulkannya, sampai menular ke negara asia tenggara mahupun di tanah air kita melaui film..budaya kuning ikutan muda mudi..pembacaan di internet yg membenarkan golongan ini menyampaikan fahaman dan anutan mereka dan pelancong-pelancong mereka ke negara ini.[3]

 

C.    Hukumn Perilaku Homoseksual dan Lesbian

 

Hukuman Homoseksual

Sebenarnya ulama-ulama fiqh berbeda pendapat mengenai hukuman bagi pelaku homoseksual. Diantara pendapat para ulama tersebut adalah:

1.      Fuqoha Madzhaf Hanbali: Mereka sepakat bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual sama persis dengan hukuman bagi pelaku perzinahan. Yang sudah menikah di rajam dan yang belum menikah dicambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun. Adapun dalil yang mereka pergunakan adalah Qiyas. Karena defenisi Homoseksual (Liwath) menurut mereka adalah menyetubuhi sesuatu yang telah diharamkan oleh Allah. Maka mereka menyimpulkan bahwa hukuman bagi pelakunya adalah sama persis dengan hukuman bagi pelaku perzinahan. Tetapi qiyas yang mereka lakukan adalah qiyas ma’a al-fariq (mengqiyaskan sesuatu yang berbeda) karena liwath (homoseksual) jauh lebih menjijikkan dari pada perzinahan.

2.      Pendapat yang benar adalah pendapat kedua yang mengatakan bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual adalah hukuman mati. Karena virus ini kalau saja tersebar di masyarakat maka ia akan menghancurkan masyarakat tersebut.Syekh Ibnu Taymiyah mengatakan bahwa seluruh sahabat Rasulullah SAW sepakat bahwa hukuman bagi keduanya adalah hukuman mati. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

 

“Barangsiapa kamu temui melakukan perbuatan kaum Luth (Homoseksual), maka bunuhlah al-fail dan al-maf’ul bi (kedua-duanya)”.

 

Hanya saja para sahabat berbeda pendapat tentang cara ekskusinya. Sebagian sahabat mengatakan bahwa kedua-duanya harus dibakar hidup-hidup, sehingga menjadi pelajaran bagi yang lain. Pendapat ini diriwayatkan dari khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq.

 

” مَا فَعَلَ هَذَا إِلاَّ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنَ الأُمَمِ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلَ اللهُ بِهَا، أَرَى أَنْ يُحْرَقَ بِالنَّارِ “

“Tidaklah ada satu umat pun dari umat-umat (terdahulu) yang melakukan perbuataan ini, kecuali hanya satu umat (yaitu kaum Luth) dan sungguh kalian telah mengetahui apa yang Allah Subhaanahu wa ta’ala perbuat atas mereka, aku berpendapat agar ia dibakar dengan api.”

Sahabat yang lain berpendapat bahwa keduanya dibawa kepuncak yang tertinggi di negeri itu kemudian diterjunkan dari atas dan dihujani dengan batu. Karena dengan demikianlah kaum nabi Luth A.S dihukum oleh Allah SWT.

Abdullah bin Abbas berkata, 

” يُنْظَرُ إِلَى أَعْلَى بِنَاءٍ فِي الْقَرْيَةِ، فَيُرْمَى اللُّوْطِيُّ مِنْهُ مُنَكِّبًا، ثُمَّ يُتَّبَعُ بِالْحِجَارَةِ “

“Ia (pelaku gay) dinaikkan ke atas bangunan yang paling tinggi di satu kampung, kemudian dilemparkan darinya dengan posisi pundak di bawah, lalu dilempari dengan bebatuan.”

Yang terpenting keduanya harus dihukum mati, karena ini adalah penyakit yang sangat berbahaya dan sulit di deteksi. Jika seorang laki-laki berjalan berduaan dengan seorang perempuan mungkin seseorang akan bertanya:”Siapa perempuan itu?”. Tetapi ketika seseorang laki-laki berjalan dengan laki-laki lain akan sulit di deteksi karena setiap laki-laki berjalan dengan laki-laki lain. Tetapi tentunya tidak semua orang bisa menjatuhkan hukuman mati, hanya hakim atau wakilnyalah yang berhak, sehingga tidak terjadi perpecahan dan kezaliman yang malah menyebabkan munculnya perpecahan yang lebih dahsyat.

“Janganlah pria melihat aurat pria lain dan janganlah wanita melihat aurat wanita lain; dan janganlah bersentuhan pria dengan pria lain dibawah sehelai selimut/kain, dan janganlah pula wanita bersentuhan dengan wanita lain dibawah sehelai selimut/kain. “(HR. Abu Daud, Muslim, Ahmad dan Tirmidzy)

 

Hukuman Lesbian

Perbuatan Lesbian hukumnya adalah haram mutlak karena ia bentuk dari zina. para ulama telah sepakat bahwa hukuman bagi pelaku sihaq (lesbi) adalah ta’zir, dimana pemerintah yang memiliki wewenang untuk menentukan hukuman yang paling tepat, sehingga bisa memberikan efek jera bagi pelaku perbuatan haram ini.

Ibn Qayyim berkata dalam Al-Jawab Al-Kafi sebagaimana berikut :

وَلَكِنْ لاَ يَجِبُ الْحَدُّ بِذَلِكَ لِعَدَمِ الإِيْلاَجِ، وَإِنْ أُطْلِقَ عَلَيِهِمَا اسْمُ الزِّنَا الْعَامُ

“Akan tetapi, tidaklah wajib padanya (yaitu dalam perbuatan lesbi) hukuman (bunuh) karena tidak adanya ilajj (solusi/obat, yaitu jima’) walaupun disematkan kepada keduanya (yakni homo dan lesbi) nama zina secara umum” (Ibn Qayyim, Al-Jawab Al-Kaf, hlm.177).

Ibn Qudamah dalam Al-Mughni menyatakan bahwa lesbi termasuk kategori zina, meski hukumannya berbeda. Ia mengatakan :

وَإِنْ تَدَالَكَتْ امْرَأَتَانِ، فَهُمَا زَانِيَتَانِ مَلْعُونَتَانِ; لِمَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: إذَا أَتَتْ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ، فَهُمَا زَانِيَتَانِ. وَلا حَدَّ عَلَيْهِمَا لأَنَّهُ لا يَتَضَمَّنُ إيلاجًا يعني الجماع. فَأَشْبَهَ الْمُبَاشَرَةَ دُونَ الْفَرْجِ، وَعَلَيْهِمَا التَّعْزِيرُ. انتهى

“Apabila dua perempuan saling bergesekan (lesbi), maka keduanya adalah berzina yang dilaknat, karena telah diriwayatkan dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda :” jika perempuan mendatangi perempuan, maka keduanya adalah berzina”. Keduanya tidak dihadd, karena tidak adanya ilajj yaitu jimak. Maka hal itu serupa dengan mubasyaroh ( مُبَاشَرَةٌ ) – bersentuhan – tanpa farji dan keduanya harus dita’zir”( Ibn Qudamah,Al-Mughni, Vol.10, hlm.162).

Jadi, hukuman bagi lesbi adalah ta’zir. Hukuman ta’zir tidak sampai membunuh pelakunya, tidak sebagaimana rajam bagi pezina laki-laki dan perempuan. Meski begitu, bukan berarti ini dosa sepele. Karena lesrbi juga perbuatan keji. Ia bentuk dari zina yang dilaknat oleh Allah. Ia disamakan dengan liwath – zina yang pernah dilakukan kaum nabi Luth. Lesbi dan liwath adalah perbuatan keji, yang bisa mengundang adzab Allah.

Apabila hukuman  ta’zir tersebut tidak terlaksana di dunia, maka hukuman tersebut akan dilaksanakan di akhirat. Dalam hal ini Allah berfirman :

وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَشَقُّ

Dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 34).

 

Menyimak posisi ajaran Islam yang tegas terhadap masalah homoseksual dan lesbian, harusnya berbagai pihak tidak memberi kesempatan untuk mempromosikannya. Karena itu, adalah ajaib, jika saat ini, begitu banyak media massa yang membuat opini seolah-olah homoseksual adalah suatu tindakan mulia (amal salih) yang perlu diterima oleh masyarakat. Promosi dan kampanye besar-besaran legalisasi homoseksual ini berusaha menggiring opini masyarakat untuk menerima praktek homoseksual.

 

 

D.    Dampak Perilaku Homoseksual dan Sebab Lesbian

Menurut pandangan Islam perilaku homoseksual termasuk dosa besar, karena perbauatn ini bertentangan dengan norma agama, norma sosial, dan bertentangan pula dengan  sunatullah dan fitrah manusia itu sendiri sebab Allah SWT telah menjadikan manusia dari pria dan wanita supaya berpasang-pasangan sebagai suami isteri untuk mendapatkan keturunan yang sah dan untuk ketenangan dan kasih saying.

Sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat 72:

 

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?

Dan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْخَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَ رَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Menurut Dr. Muhammad Rashfi di dalam kitabnya “Al-Islam wa al-Thib” sebagaimana dikutib oleh Sayid Sabiq, bahwa homoseksual  mempunyai dampak yang negatif terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat antara lain adalah sebagai berikut:[4]

1.    Tidak tertariknya kepada wanita, tetapi justeru tertarik kepada pria sama kelaminya. Akibatnya kalau si homo itu kawin, maka istrinya menjadi korban (merana), karena suaminya bisa tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai suami, dan istrinya hidup tanpa ketenangan dan kasih sayang, serta ia tidak mendapatkan keturunan sekalipun ia subur.

2.    Kelainan jiwanya yang akibatnya mencintai sesama kelamin, tidak stabil jiwanya, dan timbul tingkah laku yang aneh-aneh pada pria pasangan si homo. Misalnya ia bergaya sesama seperti wanita dalam berpakaian, berhias, dan bertingkah laku.

3.    Gangguan saraf otak, yang akibatnya bisa melemahkan daya pikiran dan semangat/kemauannya.

4.    Penyakit AIDS, yang menyebabkan penderitanya kekurangan/kehilangan daya ketahanan tubuhnya. Penyakit AIDS belum ditemukan obatnya dan telah membawa korban banyak sekali di barat, khususnya di Amerika Serikat. Berdasarkan survei di Amerika Serikat pada tahun 1985 terhadap 12.000 penderita AIDS, ternyata 73% akibat hubungan free sex, terutama homosex, 17% karena pecandu narkotika atau sejenisnya, dan 2,5% akibat transfusi darah.

Sebab-sebab lesbian sangat bervariatif. baik karena pengaruh dari luar maupun pengaruh dari dalam dirinya sendiri, antara lain adalah :

  1. Cacat pembawaan yang kemudian didorong oleh pengaruh lingkungan. Sejak lahir sudah memiliki pembawaan yang mengarah kepada prilaku lesbian. Pembawaan ini akan cepat berkembang apabila didorong oleh pengaruh lingkungan dan pergaulan.
  2. Salah asuh dan salah didik semasa kecil, hal ini juga dapat dipicu karena pengalaman masa kecil yang buruk sehingga menimbulkan traumatik. Sehingga dapat menimbulkan kecenderungan untuk melakukan lesbian.
  3. Moerthiko berpendapat, bahwa  lesbian terjadi disebabkan karena pengalaman-pengalaman di masa lampau tentang seks yang membekas pada pikiran bawah sadarnya.
  4. Dr. Cario mengemukakan, bahwa menurutnya lesbian adalah suatu gejala kekacauan saraf, yang berasal karena ada hubungan dengan orang-orang yang berpenyakit saraf.

E.     Cara Mengatasi Dan Mencegah Perilaku Homoseksual dan Lesbian

Perilaku ini dapat diatasi dengan terapi. Yang paling utama dalam terapi ini adalah dengan adanya motivasi yang kuat yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Sedangkan agar meminimalisir kemungkinana homoseksualitas maka pada saat masih kanak-kanak, individu harus diberikan pendidikan secara proporsional oleh kedua orang tua. Seorang ayah harus memerankan perannya sebagai seorang bapak yang baik dan begitu pula seorang ibu harus memerankan perannya sebagai seorang ibu secara baik pula. Oleh karena itu pola asuh orang tua yang baik dapat meminimalisir kemungkinan individu menjadi homoseksual.[5]Oleh karena itu, para orangtua harus segera bertindak cepat dan tegas.  Ajarkan dan terapkanlah syariat Islam dalam mendidik anak-anaknya sejak dini.Sehingga kita bisa mencegah penularan virus dan mematikannya. Berikut cara-cara mencegah virus ini: [6]

1.      Pakaian yang menutup aurat

Sejak usia dini, anak-anak harus tahu perbedaan pakaian muslim untuk laki-laki dan wanita.  Fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat.
Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah saw telah melaknat seorang pria yang berpakaian menyerupai pakaian wanita dan melaknat seorang wanita yang berpakaian menyerupai pakaian pria. 

2.      Pisahkan Tempat Tidurnya

Rasulullah saw bersabda: …”pisahkanlah tempat tidur mereka ketika berumur 10 tahun…”.

3.      Teman Pergaulan

Rasulullah saw bersabda: “Seseorang dilihat dari siapa temannya”.  Orangtua harus memperhatikan siapa yang menjadi teman dari anaknya.  Bagaimana akhlaqnya, keluarganya, agamanya, dll.  Kalau temannya baik, maka anak itu menjadi baik.  Kalau temannya buruk perangainya, maka seorang anak bisa tertular keburukannya.
Dalam hadits:  “Jika seseorang yang berkumpul dalam suatu tempat, maka dia termasuk golongan orang-orang tersebut”.  Remaja jangan berprinsip “yang penting asal gaul”.  Tidak peduli dengan siapa saja dia bergaul. Dianggapnya, bergaul bebas dengan berbagai kalangan adalah suatu kebaikan.  Disinilah peran orangtua agar dapat membimbing anak untuk selektif dalam memilih teman.

4.      Memberikan Tugas Sesuai dengan Tugasnya

Jenis pekerjaan pria dan wanita disesuaikan dengan tanggung jawab pria dan wanita dalam syariat, ataupun tabiat khusus dari pria dan wanita.  Pria dalam keluarga bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga yang berkewajiban memberikan nafkah, dan lebih banyak berada di luar rumah.  Anak lelaki harus diajarkan pekerjaan yang membutuhkan  tenaga dan kekuatan mental lebih kuat.  Sedangkan wanita bertanggung jawab menjadi istri dan ibu. Anak perempuan harus diajarkan pekerjaan seorang istri dan ibu.

5.      Selektif Memilih Tontonan dan Bacaan

Media masa begitu gencarnya menayangkan tontonan yang memicu munculnya gejolak seksual. Mulai dari sinetron, lagu, film, tarian, bacaan, bahkan sampai iklannya.  Orangtua harus berperan aktif untuk meyeleksi tontonan dan bacaan anak, agar anak tidak didominasi oleh naluri seksual.

6.      Keluarga harmonis

Orangtua harus dapat memberi kenyamanan kepada anak-anaknya.  Anak-anak harus mendapatkan curahan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari bapak atau ibunya.  Jangan sampai keluarga menjadi berantakan dan menimbulkan trauma bagi anak-anaknya, sehingga mendorong timbulnya perilaku menyimpang.

7.      Kepedulian terhadap lingkungan

Ketika ada kerusakan yang terjadi di lingkungannya, orangtua harus memberitahu kepada anak apa penyebabnya dan rambu-rambu yang harus diperhatikan aanda yang gar tidak terjerumus.  Bahkan kalau perlu dilibatkan dalam usaha memberantas kerusakan tersebut.  Informasi ini perlu disampaikan dalam suasana dialogis ataupun pengarahan secara tegas dari orangtua.

8.      Permudah Pernikahan

Islam mendorong para perjaka dan para gadis untuk menikah secara bertanggung jawab.  Naluri seksual hanya boleh terjadi dalam lembaga pernikahan saja.  Rasulullah saw bersabda: “Wahai pemuda, siapa saja di antara kalian mampu menanggung beban hendaklah segera menikah.” Jadi Daripada haram pacaran, lebih baik menikah
Daripada sekolah (SMP/SMA) menjadi ajang pacaran, lebih baik dibuat kebijakan tidak mempersulit remaja yang sudah menikah untuk bersekolah.  Mestinya remaja yang sedang bersekolah ketahuan pacaran, ditangkap, diberi peringatan, dan jalan terakhir dikeluarkan.

9.      Puasa Sunnah

Bagi para pemuda yang belum memungkinkan melakukan pernikahan disebabkan keadaan tertentu, hendaknya memiliki sifat ‘iffah (senantiasa menjaga kehormatan) dan mampu mengendalikan hawa nafsu.  Rasul bersabda:”Siapa saja yang tidak mampu menikah hendaknya melakukan shaum, karena shaum adalah perisai baginya”.
Shaum dilakukan untuk meningkatkan keimanan remaja, sehingga mampu mengendalikan nafsu seksual.

 

BAB III

Kesimpulan

1.      Homoseksual adalah kebiasaan seorang laki-laki melampiaskan  nafsu seksualnya pada sesamanya sedangkan lesbian adalah kebiasaan seorang perempuan melampiaskan  nafsu seksualnya pada sesamanya.

2.      Perbuatan Homoseksual itu terjadi semenjak dahulu kala hingga sekarang ini. Yang terkenal dengan kaum Homoseksual yaitu kaum nabi luth. Perbuatan ini ini banyak berlaku dimasyarakat Negara sekular atau di Negara Barat…dengan peruntukan undang-undang yang melindungi mereka. atas nama hak kebebasan manusia.

3.      Hukuman untuk pelakun Homoseksual kalau pelakunya muhshan (sudah menikah), maka dihukum rajam. Kalau gair muhshan (perjaka), maka dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun.

4.      Perilaku Homoseksual mempunyai banyak dampak negative terhadap kehidupan, perilaku ini  dapat diatasi dengan terapi. Yang paling utama dalam terapi ini adalah dengan adanya motivasi yang kuat yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri.

 

Daftar Pustaka

 

Mahjudin, Masailul Fiqhiyah berbagai kasus yang dihadapi hukum Islam masa kini ,Jakarta: KALAM MULIA, 2003

Hasan Ali, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah pada masalah-masalah kontempoer hukum islam, Jakarta:RadjaGrafindo Persada, 2000

http://blognyafitri.wordpress.com/2011/12/27/hukum-homoseksual-dan-lesbians-by-umar-hamzah/ 

http://luthfis.wordpress.com/2008/03/11/homoseksual-pada-remaja/



[1]http://blognyafitri.wordpress.com/2011/12/27/hukum-homoseksual-dan-lesbians-by-umar-hamzah/ 

[2]Mahjudin, Masailul Fiqhiyah berbagai kasus yang dihadapi hokum Islam masa kini (Jakarta: KALAM MULIA, 2003) hal. 22

[3]Mahjudin, Masailul Fiqhiyah … Ibid. hal. 25

[4]Zuhdi, Masjfuk, 1993, Masail Fiqhiyah Kapita Selekta Hukum Islam, Haji Masagung, Jakarta.

[6] http://bagus-security.blogspot.com/2016/02/cara-mencegah-lgbt-menurut-islam.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *