Hukum Memakai Cadar Menurut Islam

75 / 100

Dalam bahasa Arab, cadar diterjemahkan dengan “niqab”. Niqab berarti pakaian yang menutupi wajah seseorang. Dengan demikian, pembahasan soal hukum memakai cadar tidak bisa lepas dari pembahasan soal batasan aurat perempuan, terutama terkait wajah, dan nanti akan kita bahas seperti yang terkait dalam Qur’an Surat An Nur ayat 31.

Wanita yang Memakai cadar sering sekali diidentikkan dengan budaya arab, setiap orang yang melihat langsung tertuju ke budaya bangsa arab, padahal memakai cadar adalah budaya islam, memakai cadar sudah ada dalil-dalil yang shohih, baik itu dalil Al Qur’an maupun Hadits, begitu juga dengan para shohabiyah, mereka sudah memberi contoh untuk memakai cadar.

Belum lama ini kita di gemparkan dengan sebuah video seorang perempuan yang di diskulifikasi dalam lomba MTQ (Musabaqoh Tilawatil Qur’an) karena menggunakan cadar, dia adalah Muyasyroh, salah satu mahasiswi Semester III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di UNIVA Medan, ketika Muyasyroh mulai naik ke panggung, panitia menyuruhnya untuk membuka cadarnya, dan memberi pilihan, membuka cadarnya lalu melanjutkan lombanya atau jika dia tidak mau membuka cadarnya, maka akan di diskualifikasi, Pungkasnya (Pania)

Setelah Muyasyroh mempertimbangkan untuk membuka cadarnya atau tidak, akhirnya dengan hati yang mantap, Muyasyroh memilih mempertahankan cadarnya dan memilih untuk mundur di diskualifikasi dengan terhormat dan penuh dengan kemuliaan.

Melihat berita tersebut, mungkin ada yang berfikir dan beropini, “emang apa salahnya buka cadar, tinggal buka aj”, “Kau memang perempuan hebat, Pertahankan cadarmu”. Itulah mungkin sedikit opini dan pertanyaan yg mewakili para netizen. Lalu bagaimanakah pandangan menurut islam tentang memakai cadar, apakah hukum memakai cadar, sunnah, wajib, atau mubah???

Jika kita berbicara masalah fiqih, Agar kita mengetahui hukum memakai cadar dalam islam, maka kita harus merujuk ahlinya, yaitu kepada ulama 4 Imam Madzhab yang memang mereka pakar di masalah Ilmu Fiqih,  yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali, mereka adalah para imam madzhab yang biasa dijadikan rujukan kita dalam bermadzhab.

Madzhab Hanafi

Wajah Wanita bukanlah bagian dari Aurat.

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَآئِهِنَّ أَوْ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَآئِهِنَّ أَوْ أَبْنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ إِخْوَٰنِهِنَّ أَوْ بَنِىٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوْ نِسَآئِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيْرِ أُو۟لِى ٱلْإِرْبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفْلِ ٱلَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا۟ عَلَىٰ عَوْرَٰتِ ٱلنِّسَآءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

Arab-Latin: Wa qul lil-mu`mināti yagḍuḍna min abṣārihinna wa yaḥfaẓna furụjahunna wa lā yubdīna zīnatahunna illā mā ẓahara min-hā walyaḍribna bikhumurihinna ‘alā juyụbihinna wa lā yubdīna zīnatahunna illā libu’ụlatihinna au ābā`ihinna au ābā`i bu’ụlatihinna au abnā`ihinna au abnā`i bu’ụlatihinna au ikhwānihinna au banī ikhwānihinna au banī akhawātihinna au nisā`ihinna au mā malakat aimānuhunna awittābi’īna gairi ulil-irbati minar-rijāli awiṭ-ṭiflillażīna lam yaẓ-harụ ‘alā ‘aurātin-nisā`i wa lā yaḍribna bi`arjulihinna liyu’lama mā yukhfīna min zīnatihinn, wa tụbū ilallāhi jamī’an ayyuhal-mu`minụna la’allakum tufliḥụn

Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S. An Nur 31)”

Jadi, pendapat madzhab Hanafi, Wajah dan Tangan adalah yang biasa nampak karena kebutuhan tertentu, seperti yang tertera dalam surat An Nur 31 di atas, Namun memakai cadar menurut madzhab Hanafi, adalah hukumnya SUNNAH atau minimal di anjurkan, jadi menurut madzhab Hanafi memakai cadar tidak wajib, tapi di sunnahkan/di anjurkan. Akan tetapi menjadi WAJIB jika di khawatirkan menimbulkan fitnah.

Asy Syaranbalali berkata:

وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها باطنهما وظاهرهما في الأصح ، وهو المختار

“Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan pilihan madzhab kami“ (Matan Nuurul Iidhah)

Al Allamah Ibnu Najiim berkata:

قال مشايخنا : تمنع المرأة الشابة من كشف وجهها بين الرجال في زماننا للفتنة

“Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah” (Al Bahr Ar Raaiq, 284)

 

Madzhab Maliki

Pendapat madzhab Maliki, Kurang lebih sama dengan pendapat madzhab Hanafi, yaitu Hukumnya Sunnah (dianjurkan) dan akan menjadi wajib jika di khawatirkan menimbulkan fitnah

Al Qurthubi berkata:

قال ابن خُويز منداد ــ وهو من كبار علماء المالكية ـ : إن المرأة اذا كانت جميلة وخيف من وجهها وكفيها الفتنة ، فعليها ستر ذلك ؛ وإن كانت عجوزًا أو مقبحة جاز أن تكشف وجهها وكفيها

“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurthubi, 12/229)

Bagi wanita yang sudah sepuh, boleh untuk tidak memakai cadar karena sudah tidak menarik lagi/ menimbulkan fitnah lagi.

 

Madzhab Syafi’i

Pendapat yang terpilih/utama dari kalangan madzhab syafi’i adalah WAJIB menutup seluruh tubuh termasuk memakai cadar, meskipun ada pendapat yang paling minimal adalah SUNNAH, ini pendapat paling minilal, akan tetapi kita harus mengetahui bahwa pendapat yang terpilih atau paling utama/Mukhtar dari kalangan madzhab syafi’i adalah WAJIB memkai cadar, dan tidak ada dari kalangan madzhabsyafi’i yang mengatakan “itu hanya budaya arab saja”.

Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:

غير وجه وكفين : وهذه عورتها في الصلاة . وأما عورتها عند النساء المسلمات مطلقًا وعند الرجال المحارم ، فما بين السرة والركبة . وأما عند الرجال الأجانب فجميع البدن

“Maksud perkataan An Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan” (Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj, 411)

* Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:

وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها

“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarib, 19)

 

Madzhab Hanbali

Pendapat dari kalangan madzhab Hanbali hampir sama dengan pendapat madzhab Maliki, akan tetapi pendapat madzhab Hanbali lebih ketak, bahkan ketika nampak aurot di kukunya sesorang perempuan terlihat, maka harus di tutup (bukan menggunakan kutek)

Imam Ahmad bin Hambal berkata:

كل شيء منها ــ أي من المرأة الحرة ــ عورة حتى الظفر

“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya” (Dinukil dalam Zaadul Masiir, 6/31)

Jadi menafsirkan yang biasa nampak adalah yang biasa tidak menimbulkan fitnah dalam kehidupan.

 

Jadi Tutup Keseluruhan, WAJIB memakai cadar, SUNNAH paling ringan bahkan sampai menutup bagian punggung di telapak tangannya.

 

Dan satu hal lagi perlu kita ketahui, bahwa tidak ada satu orang pun, dari kalangan ulama, ahli-ahli fiqih yang mengatakan bahwa itu budaya di kalangan Arab. karena budaya Arab masa sebelum islam tidak menggunakan cadar, jangankan menggunakan cadar, kerudung yang untuk menutup kepala, itu tidak di pakai. jadi TIDAK BENAR jika ada yang mengatakan bahwa memakai cadar adalah Arab. Kecuali kita rubah, iya itu budaya, tapi itu adalah budaya Islam.

Wallahu A’lam……

2 thoughts on “Hukum Memakai Cadar Menurut Islam

  • September 13, 2020 pada 11:43 am
    Permalink

    MasyaAllah.. sangat bermanfaat. .

    Balas
    • September 15, 2020 pada 1:22 am
      Permalink

      Amiin

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *