METODE PENELITIAN DAN SEJARAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

79 / 100

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Psikologi perkembangan pada prinsipnya merupakan cabang dari ilmu psikologi. Psikologi itu sendiri merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu “psychology”. Istilah ini pada mulanya berasal dari kata dalam bahasa yunani yaitu “psyche”,  berarti, jiwa atau daya hidup, sedangkan “logos” berarti ilmu. Jadi secara harafiah, “psychology” berarti ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan atau “Ilmu Jiwa “. Sedangkan menurut istilah, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa, dimana jiwa termanifestasi dalam tingkah laku atau aktivitas- aktivitas baik motorik, kognitif, maupun emosi. Sedangkan istilah “perkembangan”  (development) dalam psikologi merupakan konsep yang cukup rumit dan kompleks. Perkembangan itu tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin memebesar melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan, dan belajar.

Dalam psikologi perkembangan terdapat metode-metode umum dan khusus yang digunakan untuk mengetahui historis suatu perkembangan. Metode-metode pendekatan umum itu antara lain : pendekatan cross-sectional, pendekatan longitudinal, dan pendekatan cross-cultural (lintas-budaya). Masing-masing pendekatan tersebut, memiliki kelebihan dan kelemahan tertentu.

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana sejarah psikologi perkembangan?
  2. Siapa saja tokoh yang berperan penting dalam perkembangan sejarah psikologi perkembangan?
  3. Metode apa saja yang digunakan pada psikologi perkembangan?


BAB II

PEMBAHASAN

  1. Sejarah Psikologi Perkembangan

Psikologi  merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu “psychology”. Istilah ini pada mulanya berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu “psyche”,  berarti, jiwa atau daya hidup, sedangkan “logos” berarti ilmu. Jadi secara harafiah, “psychology” berarti ilmu yang memepelajari tentang kejiwaan atau “Ilmu Jiwa “. Menurut para ahli psikologi, pengertian psikologi secara istilah adalah sebagai berikut :

  1. Merupakan ilmu tentang kesadaran manusia.
  2. Merupakan ilmu yang mempelajari prilaku dan proses mental.
  3. Merupakan ilmu tentang aktivitas-aktivitas individu ( meliputi perilaku motorik, kognitif, dan emosi ).
  4. Merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa, dimana jiwa termanifestasi dalam tingkah laku atau aktivitas- aktivitas baik motorik, kognitif, maupun emosi[1][1].

Pada tahun 1897, fisiolog (dokter) Wilhelm Wundt untuk pertama kalinya mengajukan gagasan memisahkan ilmu psikologi dari ilmu-ilmu induknya, yaitu ilmu filsafat dan ilmu faal. Keinginan kuat Wundt untuk menjadikan psikologi sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri didasarkan atas keyakinannya bahwa gejala-gejala psikis tidak dapat hanya diterangkan dari sudut proses-proses fisik. Menurutnya, bagi psikologi, fisiologi hanyalah merupakan ilmu pengetahuan penolong saja. Untuk itu, di kota Leipzig. Wundt mendirikan laboratorium sendiri untuk melakukan eksperimen-eksperimen dalam psikologi. Objek psikologi Wundt bukan lagi konsep-konsep abstrak seperti dalam ilmu filsafat, tetapi juga bukan reflex yang bersifat ilmu faal, melainkan tingkah laku yang bias dipelajari secara objektif.

Sejak zaman Wundt itulah, psikologi mulai dipandang sebagai ilmu berdiri sendiri. Objek materialnya adalah gejala-gejala tingkah laku manusia, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, yang dapat diamati dan diukur secara langsung. Oleh sebab itu, dewasa ini psikologi didefinisikan sebagai “the scientific study of behaviour and mental processes”. Tingkah laku adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh suatu organisme yang dapat diamati dan direkam, seperti berteriak, tersenyum, mengedipkan mata, berbicara dan bertanya. Sedangkan proses mental adalah pengalaman internal yang kita simpulkan dari tingkah laku, atau aktivitas organisme yang bersifat psikologis, seperti sensasi, persepsi, mimpi, pikiran fantasi, kepercayaan dan persaan.

Sedangkan pengertian perkembangan, Chaplin (2002)[2][2] mengartikan perkembangan sebagai (1) Perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir hingga mati, (2) Pertumbuhan, (3) Perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke bagian-bagian fungsional., (4) Kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari. Sementara itu, Reni Akbar Hawadi (2001)[3][3] menafsirkan,”Perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kausalitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia yang diawali saat pembuahan dan berakhir dengan kematian”.

Perkembangan itu menunjukkan suatu proses tertentu, yaitu suatu proses yang menunjukkan kedepan dan tidak dapat diulangi kembali.dalam perkembangan manusia terjadi perubahan-perubahan yang sedikit banyak bersifat tetap dan tidak dapat diulangi. Perkembangan menunjukkan pada perubahan – perubahan dalam suatu arah yang bersifat maju[4][4].

Psikologi perkembangan lebih mempersoalkan factor-faktor umum yang memepengaruhi proses perkembangan yang terjadi di dalam diri seseorang. Titik berat yang diberikan oleh para psikolog perkembangan adalah relasi antara kepribadian dan perkembangan. Hal ini disebabkan oleh pendapat sebagian besar para psikolog bahwa keseluruhan kepribadian itulah yang berkembang meskipun beberapa komponen dapat lebih menonjol perkembangan pada masa – masa  tertentu daripada komponen yang lain, misalnya fungsi indra dan fungsi motorik menonjol pada tahun – tahun pertama. Dengan kata lain, psikologi perkembangan lebih tertarik pada struktur yang berbeda – beda yang tampak pada orang yang tengah berkembang itu. Ia tertarik antara struktur- struktur itu. Berhubung dengan itulah kadang-kadang dipakai istilah stadium yang berurutan, bila pembicaraan berkisar pada suatu komponen tertentu, misalnya perkembangan intelegensi. Kadang – kadang dipakai istilah fase bila pembicaraan berkisar pada hubunganya antara komponen – komponen dalam periode perkembangan tertentu.

Dengan begitu orang bicara mengenai masa-masa penghidupan, yang jelas dapat dibedakan antara masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa hingga masa lanjut usia. Masa pemuda atau masa remaja kurang jelas batasnya dengan masa kanak-kanak maupun masa dewasa awal, meskipun memang ada cirri-ciri yang khas yang membedakan masa remaja dengan masa sebelumnya. Berhubung dengan sifat seseorang yang khas serta jalan perkembanganya yang khas pula, maka psikologi perkembangan juga dapat dipandang sebagai psikologi jalan hidup seseorang.

Desmita dalam bukunya “Psikologi Perkembangan” menyimpulkan bahwa Perkembangan itu tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin memebesar melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan, dan belajar. Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan cirri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap.

Aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk / tahap ke bentuk / tahap berikutnya, yang kian hari bertambah maju, mulai dari masa pembuahan hingga berakhir dengan kematian.

Ini menunjukkan sejak masa konsepsi sampai meninggal dunia, individu tidak pernah statis, melainkan mengalami perubahan-perubahan yang progresif dan berkesinambungan. Selama masa kanak-kanak hingga menginjak remaja misalnya, ia mengalami perkembangan dalam struktur fisik dan mental, jasmani dan rohani sebagai cirri-ciri dalam memasuki jenjang kedewasaan. Demikian seterusnya, perubahan-perubahan dalam diri individu itu terus berlangsung tanpa henti, meskipun perkembangan semakin hari semakin pelan, setelah ia mencapai titik puncaknya.

Dari penjelasan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa psikologi perkembangan adalah:

  1. Ilmu yang lebih mempersoalkan faktor-faktor umum yang mempengaruhi proses perkembangan ( perubahan )dalam diri seseorang yang menitikberatkan pada relasi antara kepribadian dan perkembangan (Pendapat Prof. Dr. F.J. Monks, Prof. Dr. A.M.P dan Prof. Dr. Siti Rahayu dalam bukunya “Psikologi Perkembangan”).
  2. Ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang mulai periode masa bayi, remaja, dewasa hingga lanjut usia (Pendapat Kartini Kartono dalam bukunya “Psikologi Anak”).

Untuk mengetahui suatu perkembangan atau pertumbuhan, harus dilakukan pendekatan-pendekatan dan metode-metode tertentu, dimaksudkan untuk memberikan pengertian tentang bagaimana para psikolog perkembangan melakukan tugas mereka dalam mendapatkan lebih banyak pengertian akan gejala perkembangan serta bagaimana cara mengatasi hambatan dalam proses perkembangan.

  1. Siapa saja tokoh yang berperan penting dalam perkembangan sejarah psikologi perkembangan?
  1. Abad 17 Johann Amos Comenius (1592-1670)

Comenius merupan seorang ahli pengetahuan, dalam bukunya “DIDACTICA MAGNA” ia berpendapat bahwa “sistem pendidikan yang cocok bagi masa hidup anak yaitu enam tahun pertama”. Dan dalam bukunya yang ke-2 yaitu “ORBIS PICTUS” menekankan bahwa “anak lebih dahulu memahami fakta-fakta objektif daripada yang abstrak”.

  1. Abad 18

Pada abad ini timbullah aliran kejiwaan yang disebut Rasionalisme. Penganut aliran ini beranggapan bahwa akal (ratio) adalah sumber kebenaran yang bersumber dari kepercayaan atau tradisi.beberapa tokoh yang membawa cita-cita baru dan yang  menentukan pendidikan pada zaman itu adalah:

John Locke (1632-1704) (seorang empiris)

John Locke sebagai seorang pendidik, ia sangat menghargai pendidikan jasmani dan mempertahankan pendidikan di rumah. Ia berpendapat bahwa pendidikan anak itu lebih baik diserahkan kepada pendidik di rumah daripada di sekolah, alasannya bahwa pembentukan kepribadian anak itu akan dapat lebih terjamin di rumah daripada di sekolah.

Sistem pendidikan John Locke adalah bersifat individualistic. Ia beranggapan bahwa pendidikan itu tidak punya funsi social. Tujuan pendidikan menurut John Locke adalah menjadikan akan orang yang baik dan berguna dan hidup dalam suasana kebahagian.

  1. Psikologi Anak Pada Abad Ke-19

Masa ini dipandang sebagai masa perkembangan psikologi anak yang ke-2, sebagai lanjutan dari usaha-usaha yang telah dirintis oleh Frobel. Adapun tokoh-tokoh utama dari zaman ini adalah:

Herbart (1776-1841)

Herbart berpendapat bahwa perasaan dan hasrat sebagai daya jiwa tidak dapat dipisahkan dengan tanggapan. Dari segi pendidikan Herbart mendasarkan pendidikannya pada etika dan ilmu jiwa. Tujuan pendidikannya diambil dari etika (kesusilaan) sedang  alat pendidikannya diambil dari ilmu jiwa, yang teori “Tanggapan Herbart”.

  1. Metode Psikologi Perkembangan

Dalam buku “Psikologi Perkembangan” karya Yudrik Jahja, terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mengetahui gejala-gejala yang timbul dalam psikologi perkembangan yang bersifat spesifik. Diantaranya:

  1. Metode Eksperiment (experimen method)

Metode ini merupakan metode yang paling teliti dalam mengumpulkan data/informasi, karena eksperimen merupakan pengamatan yang terkontrol dan biasanya dilaksanakan dalam laboratorium.

  1. Metode Pengetahuan (developmental or genetic method)

Suatu metode penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan dan pencatatan terhadap gejala gejala yang dilakukan secara terus menerus sepanjang pertumbuhan dan perkembangan yang terbagi:.

  1. Metode longitudional

Metode longtudinal adalah pendekatan dalam penelitian yang dilakukan dengan cara menyelidiki anak dalam jangka waktu yang lama. Dengan pendekatan ini biasanya diteliti beberapa aspek tingkah laku pada satu/dua orang yang sama dalam waktu beberapa tahun. Misalnya: mengikuti perkembangan seseorang dalam jangka waktu tertentu, seeperti selama masa kanak-kanak atau mengikuti perkembangan seseorang selama masa remaja

  1. Metode cross-sectional

Metode cross-secsional adalah suatu pendekatan yang dipergunakan untuk melakukan penelitian terhadap beberapa kelompok anak dalam jangka waktu yang relatif singkat.

Misalnya: meneliti sekelompok anak berusia 5 tahun, 8 tahun dan 11 tahun.

  1. Metode Observasi

Adalah suatu cara yang dilakukan untuk mengamati semua tingkah laku yang terlihat dalam jangka waktu tertentu atau pada tahap perkembangan tertentu.. Metode ini dibedakan menjadi dua :

  1. Observasi Sekilas (incidental observation) disebut juga introspeksi pengamatan diri atau pengamatan subjektif, yaitu pengamatan yang dilakukan seorang individu terhadap tingkahlakunya sendiri.
  2. Observasi Alami adalah pencatatan data mengenai tingkah laku yang terjadi sehari-hari secara alamiah/wajar. Jadi para peneliti melakukan semua pencatatan terhadap kehidupan anak tanpa mengubah suasana atau mengontrolnya. Misalnya: observasi yang dilakukan terhadap kehidupan anak dari jam sekian hingga sekian, dan mencatat apa saja yang dilakukan.
  3. Observasi Terkontrol, dilakukan bilamana lingkungan tempat anak berada diubah sedemikian rupa sesuai dengan tujuan peneliti, sehingga bermacam- macam reaksi tingkah laku anak diharapkan akan timbul. Misalnya seorang anak yang ingin diketahuai reaksi dan sikapnya terhadap lingkungan pergaulanya, akan diobservasi pada lingkungan sosial yang sudah direncanaka.

Demikian juga untuk mengetahui sebab-sebab seorang anak yang agresif, ia dimasukkan kedalam ruangan main yang sudah disusun sedemikian rupa (misalnya ruangan yang ada bermacam boneka atau mainan) sehingga reaksi-reaksi dan perubahan-perubahan yang akan diperlihatkan anak timbul karena rangsangan khusus dari lingkunganya. Dengan demikian dalam observasi terkontrol ini dilakukan manipulasi terhadap tingkah laku tertentu. Observasi yang terkontrol ini bisa dilakukan terhadap sekelompok anak yang sama umurnya atau sama jenis kelaminya dan pada waktu tertentu.

Kedua jenis observasi ini bisa dilakukan dengan alat-alat modern serta dengan kuantifikasi secara statistic dan pengolahan-pengolahan dengan computer. Jenis observasi yang kedua dianggap lebih objektif dan hasilnya lebih akurat dari pada yang pertama. Karena itu observasi terkontrol dapat dilakukan untuk tujuan-tujuan experimental dengan pendekatan dan metode yang sesuai dengan lapangan psikologi experimental. Misalnya untuk menyelidiki timbulnya phobia anak-anak terhadap anjing dapat dilakukan dengan observasi terkontrol dan dengan metode-metode yang ditinjau dari sudut experimental, seperti dengan membagi sekelompok anak sebagai kelompok pengontrol.

  1. Metode Riwayat Hidup atau klinis (the case history or clinical)

Suatu studi melalui riwayat hidup yang penerapannya terbatas untuk memecahkan masalah yang dihadapi individu. Tujuan metode ini adalah diagnosis.Metode ini disamping mempunyai keuntungan juga memiliki kelemahan yaitu bahwa metode ini kadang-kadang bersifat subjektif, dalam arti menurut pandangan yang membuat biografi itu. misalnya apabila orang yang membuat biografi itu sepaham, maka sudah barang tentu orang dalam membuat biografi akan dipengaruhi sudut pandangnya, lebih-lebih dalam pembuatan otobiografi (biografi diri sendiri).

  1. Metode Analisis Karya

Merupakan suatu metode penyelidikan dengan mengadakan analisis dari hasil karya.

Misalnya: gambar-gambar, karangan-karangan yang telah dibuat, karya-karya ini merupakan pencetusan dari keadaan jiwa seseorang. Dalam hal ini termasuk juga buku harian seseorang.

  1. Metode Tes (test method)

Instrument penelitian yang penting dalam psikologi, tes digunakan untuk mengukur semua jenis kemampuan.

Tes merupakan instrumen penelitian yang penting dalam psikologi kontemporer, yang digunakan untuk mengukur segala jenis kemampuan, minat, sikap dan hasil kerja.

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Dari semua materi yang sudah dibahas diatas, maka dapat dismipulakn bahwa :

  1. Psikologi perkembangan adalah Ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang dimulai sejak lahir hingga wafat dengan menitik beratkan pada kepribadian dan pengembangan.
  2. Tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah psikologi perkembangan antara lain, Amos Comenius di abad ke-17, John Locke di abad ke-18, dan Herbart di abad ke-19
  3. Ada banyak metode penelitian yang dipakai dalam psikologi perkembangan, enam diantaranya yaitu metode eksperiment, metode pengetahuan, metode observasi, metode riwayat hidup atau klinis, metode analisis karya dan metode tes.

Referensi

  1. http://ainunnajib1994.blogspot.com/2016/03/makalah-metode-metode-penelitian-dalam.html
  2. http://muzakki16.blogspot.com/2014/11/sejarah-metode-pendekatan-psikologi.html
  3. Ahmadi, Abu dan Munawar Sholeh, 2005, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Rineka Cipta
  4. Akbar, Reni dan Hawadi, 2001, Psikologi Perkembangan Anak, Mengenal Sifat, Bakat, dan Kemampuan Anak. Jakarta: Grasindo.
  5. Desmita, 2009, PsikologiPerkembanganCetakankelima, Bandung: Rosdakarya
  6. Nurwanita, Ilmu Jiwa Perkembangan, Makassar : Yayasan Pendidikan.2005.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *