Niat Kuat untuk Haji

72 / 100

Berangkat Haji dengan Niat yang Serius

Bukan bermaksud utk riya’, sum’ah atau sebangsanya , melainkan agar bisa diambil sbg i’tibar bagi yg lain ….

Saya sejak masih duduk di sekolah menengah sudah begitu kesengsem untuk berkunjung ke Baitullah & ziarah Nabi , sehingga setiap saya melihat gambar Ka’bah & Masjid Nabawi selalu berdoa ” Rabbi, ballighna nazuruhu … Ya Allah, sampaikan daku menziarahinya ” …

Hal ini terus berlangsung hingga saya menikah dan mempunyai satu orang anak, dimana rumah masih menumpang di ortu, motor masih nyicil , mobil pick up butut untuk usaha pun masih utang …

Lima tahun menikah kondisi ekonomi masih tak berubah , bisa menutup kebutuhan harian & tanggungan cicilan utang saja sudah amat bersyukur ….

Suatu bulan di tahun kelima pernikahan itu, kebetulan ada pendapatan usaha yg cukup besar dibanding sebelumnya sehingga bisa berganti mobil armada yg lebih bagus uutuk alat angkut usaha …. Mobil pun terbeli seharga 38 jt, menyisakan uang di tabungan sebesar 13 jt untuk modal usaha ….

Dalam pada itu, punya mobil lumayan bagus ternyata bikin hati gelisah, setiap mengendarainya hati saya selalu bertanya kenapa mampu beli mobil seharga 38 jt sedangkan daftar haji yg biayanya 35 jt malah tak bisa ?

Kegelisahan ini saya utarakan ke istri, tapi istri malah memperberati dengan keluhannya sendiri : ” Mas, mobil kan untuk kebutuhan usaha, lagian kita juga belum punya rumah sendiri, daripada untuk daftar haji secara memaksakan diri karena belum cukup biaya, mendingan uang di tabungan yg untuk cadangan modal usaha itu dibelikan batu bata saja utk mencicil material agar segera bisa bangun rumah … ”

Mendengar jawaban istri, saya justru merasa tertantang untuk membuktikan kebenaran dawuh para sepuh bhw *” sopo sing mentingake akhirat maka dunyane katut, & sopo sing mentingake dunya maka akhirate luput “* yang tentunya merupakan cerminan janji Kalamullah :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat. ” [Surat Asy-Syura 20]

Sehingga beberapa hari kemudian, saya ke Kemenag untuk mendaftar haji dengan membayar 20 jt , dimana 13 jt dari tabungan sendiri dan 7 jt dari pinjaman saudara

Tak terpaut lama yaitu kurang dari satu tahun setelah mendaftar , sungguh rezeki begitu deras mengalir hingga jauh2 hari sebelum masa keberangkatan yg harus menunggu 5 tahun itu Allah telah membuat kami mampu membangun rumah dlm tempo yg cukup singkat yg melebihi dari harapan sederhana kami semula, bisa membeli beberapa motor baru dan mobil utk kendara keluarga, juga kemudian membeli tanah yg cukup luas buat membangun perumahan, bisa umrah beberapa kali, dan yg tak kalah kami syukuri adalah bertambah ramainya rumah kami dgn anak2 yg manis serta sehat wal afiat ….

Itu semua hanyalah fadhal minallah , yang bilamana sedang bercengkerama dengan istri saya terkadang menggodanya untuk mengingatkan anugerah ini : ” Seumpama dulu saya mengikuti kemauanmu, maka haji tak terjalani, naik mobil harus rela berpanas diri, rumah pun paling masih ujud pondasi “.

نحمد اللّه و نشكر له على ما انعمنا

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *