Pengertian, Sebab Terjadi, Tujuan Study Masailul Fiqhiyah

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Di zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup, kaum muslimin menjumpai bebagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan mereka baik dalam masalah dunia maupun akhirat, kemudian mereka menanyakan hal ini kepada rosulullah dan rosul lah yang langsung memberikan jawaban. Sehingga tidak ada masalah yang terlalu rumit untuk diselesaikan pada masa ini, karena segala sesuatu yang datang dari rosulullah merupakan sebuah wahyu yang haq dari Allah dan tidak diragkan lagi kebenarannya.

Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (Surah An-Najm ayat 1-4).

Namun semuanya berubah ketika rosul wafat dan secara otomatis wahyu terputus, sehingga mengakibatkan para sahabat ketika menyelesaikan masalah yang baru menempuh cara-cara dibawah ini :

  1. Mencari ketentuan hukum dari kitab suci Al-Qur’an
  2. Mencari ketentuan hukum dari hadits Nabi Muhammad SAW
  3. Memusyawarahkan masalah tersebut, dimana kholifah pengganti rosul mengundang para tokoh sahabat saat itu untuk dimintai pendapat masing-masing tentang hukum masalah yang sedang dihadapi. Apabila mereka menghadapi kata sepakat, maka kholifah melaksanakan hasil musyawarah tersebut. Apabila kholifah tidak mendapat kata sepakat maka kholifah mengambi alih dengan menentukan yang sekiranya dipandang lebih banyak mengandung maslahat dibanding madharat.

 

Dewasa ini masalah yang berkembang di masyarakat berkenaan dengan hukum-hukum fiqh semakin luas dan berkembang seiring berkembangnya zaman, maka diperlukan pemkiran ijtihad yang benar-benar jeli untuk memperoleh penyelesaian yang tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan agama.

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana Pengertian Masail Fiqhiyah ?
  3. Bagaimana Ruang Lingkup Masail Fiqhiyah ?
  4. Bagaimana Tujuan Masail Fiqhiyah ?

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Masail Fiqhiyah

Secara etimologi masail fiqhqiyah terdiri dari dua kata yaitu masail dan fiqh. Adapun masail itu terdiri dati kata ( سئل) yang bermakna bertanya/masalah. Adapun fiqh secara etimologi berasal dari kata ( فقه ) yang artinya memahami. Maka secara etimologi masail fiqhiyah adalah masalah-masalah yang terkait dengan pemahaman/fiqh.

Secara Terminologi Dr. Ahmad Sudirman Abbas mendefinikan masail fiqhiyah adalah masalah yang terkait dengan fiqh di maksud adalah persoalan-persoalan yang muncul pada konteks kekinian sebagai refleksi kompleksitas problematika pada suatu tempat, kondisi dan waktu. Dan persoalan tersebut belum pernah terjadi pada waktu yang lalu karena adanya perbedaan situasi yang melingkupinya.

Sementara Dr. Majuddin mendefinisikan masail fiqhiyah adalah persoalan hukum islam yang selalu dihadapi oleh umat islam, sehingga mereka beraktifitas dalam kehidupansehari-hari selalu bersikap dan berperilaku sesuai dengan tuntunan islam.

Jadi, Masail Fiqhiyah merupakan problem-problem hukum islam baru al-waqi’iyyah (faktual) dan dipertanyakan oleh umat jawaban, yang muncul setelah turunnya Al-Qur’an dan wafatnya Rasulullah SAW, yang belum ada ketentuan pasti sehingga dalam mencari jawabannya memerlukan kesepakatan para ulama dalam menentukan hukum yang diambil dari Al-quran, Hadits, Ijma’, qiyas.

  1. Ruang Lingkup Masail Fiqhiyah

Hukum Islam terkandung didalamnya sasaran pasti yaitu mewujudkan kemaslahatan. Tidak ada hal yang sia-sia di dalam syari’at melalui Al-Qur’an dan al-Sunnah kecuali terdapat kemaslahatan hakiki di dalamnya.

Ruang lingkup pembahasan Masail fiqhiyah meliputi :

 

  1. Hubunganmanusiadengan Allah SWT

Ilmu fiqih mengatur tentang ibadah yaitu ibadah mahdzah dan ghairu mahdzah. Ibadah mahdzah adalah ajaran agama yang mengatur perbuatan-perbuatan manusia yang murni mencerminkan hubungan manusia itu dengan sang pencipta yaitu Allah SWT. Sedangkan ibadah ghairu mahdzah adalah ajaran agama yang mengatur perbuatan antar manusia itu sendiri  serta manusia dengan lingkungan.

Contoh masail fiqhiyyah yang berhubungan dengan ibadah yaitu hukum fiqh menyikapi shalat jum’at lebih dari satu tempat (ta’adud al jum’at). Pada zaman sekarang dalam pelaksanaan shalat jum’at sering memunculkan beberapa fenomena menarik. Semisal aturan lokasi pelaksanaan shalat jum’at yang menurut sebagian kalangan harus terpusat di satu tempat. Hal ini terkadang menimbulkan masalah disaat keadaan menuntut sebagian masyarakat membuat lokasi alternatif. Mungkin anggapan mereka hal itulah yang terbaik dengan alasan kondisi pemukiman, kapasitas tempat peribadatan dan interaksi sosial di tengah-tengah mereka adalah faktor-faktor potensial pemicu kejadian semacam itu.Menyikapi perkembangan di atas, statement mayoritas ulama secara tegas menghukumi wajib melakukan shalat jum’at di satu tempat dalam sebuah balad atau qaryah. Al-Syafi’i dalam hal ini berpendapat bahwa shalat jum’at jelas tidak diperkenankan lebih dari satu tempat, baik ada hajat atau tidak. Namun istinbath (penggalian) dari ulama syafi’iyyah dalam permasalahan ini akhirnyamemperbolehkandenganbatashajattertentu.

Faktor pemicu terjadinya ta’adud al-jum’at di atas sangat luas pemahamannya apabila kita dalami satu persatu. Hanya saja syari’at mempermudah kita dengan memberikan sebuah standar yang lebih fokus dengan mengembalikan kepada batasan “urfi(tradisi mayoritas masyarakat) yang ditopang rasionalisasi tinggi, yaitu semua faktor yang sudahsampai pada tingkat kesulitan yang diluar batas kemampuan. Artinya semisal konflik masyarakat dalam satu daerah sudah sampai menyebabkan antar pihak sulit berkumpul hingga pada taraf hampir mustahil atau semisal kapasitas tempat shalat yang terbatas dan tidak memungkinkan menampung seluruh masyarakat di daerah tersebut, disitulah ta’adud al-jum’at diperbolehkan.

 

  1. Hubungan manusia dengan sesamamanusia

Sebagai contoh masail fiqhiyyah yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia yaitu mendonorkan organ tubuh. Pendapat pertama mengatakan bahwa transplantasi seperti hukumnya haram. Meskipun pendonoran tersebut untuk keperluan medis bahkan sekalipun telah sampai dalam kondisi darurat.
Dalil pendapat yang pertama

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا﴿٢٩﴾

 

yang Artinya adalah : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu (Q.S An-Nisa : 29 )

Kelompok kedua berpendapat bahwa transplantasi hukumnya jaiz (boleh) namun memiliki syarat-syarat tertentu, diantaranya adalah : adanya kerelaan dari si pendonor, kondisi si pendonor harus sudah baligh dan berakal, organ yang didonorkan bukanlah organ vital yang menentukan kelangsungan hidup seperti jantung dan paru-paru serta merupakan jalan terakhir yang memungkinkan untuk mengobati orang yang menderita penyakit tersebut.

Dalil pendapat kedua

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا۟ مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰـهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَّيُضِلُّونَ بِأَهْوَآئِهِم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ ﴿الأنعام:١١٩﴾

yang artinya adalah : Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampauibatas

( Q.S Al-An’am : 119 )

Dari fatwa MajelisUlama Indonesia menyatakanbahwadalamkondisitidakadapilihan lain yang lebihbaik, makapengambilan organ tubuh orang yang sudahmeninggaluntukkepentingan orang yang masihhidupdapatdibenarkanolehhukum Islam dengansyaratadaizindari yang bersangkutandanizindarikeluargaatauahliwaris.

 

  1. Hubunganmanusiadengandirinyasendiri

Contoh masail fiqhiyyah yang mengatur hubungan manusia dengan dirinyasendiriyaitutentanghukumrebonding. Rebonding adalah meluruskan rambut agar rambut jatuh lebih lurus dan lebih indah. Prosesnya dua tahap. Pertama, rambut diberi krim tahap pertama untuk membuka ikatan protein rambut. Kemudian rambut dicatok, yaitu diberi perlakuan seperti disetrika dengan alat pelurus rambut bersuhu tinggi. Kedua, rambut diberi krim tahap kedua untukmempertahankanpelurusanrambut.

Proses rebonding melibatkan proses kimiawi yang mengubah struktur protein dalam rambut. Proses rebonding menghasilkan perubahan permanen pada rambut yang terkena aplikasi. Namun rambut baru yang tumbuh dari akar rambut akan tetap mempunyai bentuk rambut yang asli. Jadi, rebonding bukan pelurusan rambut biasa yang hanya menggunakan perlakuan fisik, tapi juga menggunakan perlakuan kimiawi yang mengubah struktur protein dalam rambut secara permanen. Inilahfakta (manath) rebonding.

Rebonding hukumnya haram, karena termasuk dalam proses mengubah ciptaan Allah (taghyir khalqillah) yang telah diharamkan oleh nash-nash syara’. Dalil keharamannya adalah keumuman firman Allah.

وَلأُضِلَّنَّهُمْ وَلأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الأَنْعَامِ وَلآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللّهِ وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِّن دُونِ اللّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا﴿١١٩﴾

Artinya : “Dan aku (syaithan) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu mereka benar-benar mengubahnya”. (QS An-Nisaa` [4] : 119).

Ayat ini menunjukkan haramnya mengubah ciptaan Allah, karena syaitan tidak menyuruh manusia kecuali kepada perbuatan dosa. Mengubah ciptaan Allah (taghyir khalqillah) didefinisikan sebagai proses mengubah sifat sesuatu sehingga seakan-akan ia menjadi sesuatu yang lain (tahawwul al-syai` ‘an shifatihi hatta yakuna ka`annahu syaiun akhar), atau dapat berarti menghilangkan sesuatu itu sendiri (al-izalah).

Dari definisi tersebut, berarti rebonding termasuk dalam mengubah ciptaan Allah (taghyir khalqillah), karena rebonding telah mengubah struktur protein dalam rambut secara permanen sehingga mengubah sifat atau bentuk rambut asli menjadi sifat atau bentuk rambut yang lain. Dengandemikianhokumrebondingadalah haram.

Selain dalil di atas, keharaman rebonding juga didasarkan pada dalil Qiyas. Dalam hadis Nabi SAW, diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA, dia berkata,“Allah melaknat wanita yang mentato dan yang minta ditato, yang mencabut bulu alis dan yang minta dicabutkan bulu alisnya, serta wanita yang merenggangkan giginya untuk kecantikan, mereka telah mengubah ciptaan Allah.” (HR Bukhari).

Adapun meluruskan atau mengeriting rambut tanpa perlakuan kimiawi yang mengubah struktur protein rambut secara permanen, yakni hanya menggunakan perlakuan fisik, seperti menggunakan rol plastik dan yang semisalnya, hukumnya boleh. Sebab tidak termasuk mengubah ciptaan Allah, tapi termasuk tazayyun (berhias) yang dibolehkan bahkan dianjurkan syara’, dengan syarat tidak boleh ditampakkan kepada yang bukan mahrom.

  1. Hubunganmanusiadenganalamsekitar

Islam menekankan umatnya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan berlaku arif terhadap alam (ecology wisdom). Akan tetapi, doktrin tersebut tidak diindahkan. Perusakan lingkungan tidak pernah berhenti. Eksplorasi alam tidak terukur dan makin merajalela. Dampaknya, ekosistem alam menjadi limbung. Ini tentunya sangat mengkhawatirkan. Alam akam menjadi amcaman yang serius. Fiqh Islam pun tumpul. Fiqh belum mampu menjadi jembatan yang mengantarkan norma Islam kepada perilaku umat yang sadar lingkungan. Sampai saat ini, belum ada fiqh yang secara komprehensif dan tematik berbicara tentang persoalan lingkungan. Fiqh-fiqh klasik yang ditulis oleh para imam mazhab hanya berbicara persoalan ibadah, mu’amalah, jinayah, munakahat dan lain sebagainya. Sementara, persoalan lingkungan (ekologi) tidak mendapat tempat yang proporsionaldalamkhazanahislamklasik. Karena itulah, merumuskan sebuah fiqh lingkungan (fiqh al-bi’ah) menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Yaitu, sebuah fiqh yang menjelaskan sebuah aturan tentang perilaku ekologis masyarakat muslim berdasarkan teks syar’i dengan tujuan mencapai kemaslahatan dan melestarikanlingkungan.

  1. Tujuan Masail Fiqhiyah

Masa’il fiqhiyah termasuk menghubungkan suatu hukum dengan hukum lainya yang belum ada nashnya dan didasari atas kumpulan hasil pemahaman para mujtahid terhadap Al-Qur’an dan hadits.
Dengan lahirnya masail fiqihiyah atau persoalan-persoalan kontemporer, baik yang sudah terjawab maupun sedang diselesaikan bahkan prediksi munculnya persoalan baru mendorong kaum muslimin belajar dengan giat mentelaah berbagai metodologi penyelesaian masalah mulai dari metode ulama klasik sampai metode ulama kontemporer.

Dari penjelasan di atas maka tujuan dari Masa’il fiqhiyah secara umum adalah untuk menjawab dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan baru yang muncul dalam masyarakat di kehidupan modern yang sering terjadi dan membutuhkan kepastian hukum. Sedangkan tujuan khususnya mempelajari Masail Fiqhiyah bagi kita calon-calon pendidik adalah agar nantinya ketika mengajar kita sudah siap dan dapat menjawab dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan serta pertanyaan-pertanyaaan yang mungkin muncul dari peserta didik.

Tujuan lain dariadanyamasailfiqhiyahadalah :

  1. Sebagaisebuahdisiplinilmu, MasailFiqiyahtermasukbidangstudi yang paling banyakmengandungperdebatan, nuansadansekaliguskeuntungan. Semuaituakanmenjadihikmahdanrahmat, manakaladisikapisecaraadil, obyektif, kritisdandinamis.
  2. AdanyailmuMasailFiqiyahinimenunjukkankepedulian yang kuatdanmendalamdarikalangan para ahlihukumislamuntukmemberikanjawabanterhadapberbagaimasalah yang berkembang.
  3. Berbagaijawaban yangmereka berikanitudapatdigunakansebagaibahanperbandingandanmenambahmemperkayakhazanahinteletual.
  4. IlmuMasailFiqiyahjugamenunjukkanadanyakebebasanberfikirsecaratanggungjawab di kalanganumatislamdansekaligustoleransidankedewasaansikapdalammenghadapiberbagaiperbedaanpendapat.
  5. Dengankeilmuan masailfiqhiyyahdiharapkanmampumemahamidengaanbaiktentangproblema-problema yang timbuldalamFiqh Islam, memberikankemampuanuntukmembahasdanmemecahkanmasalah-masalahFiqh yang aktual danmemasyarakatkannyadenganpendekatan yang luas, yang tidakhanyaterfokuspadateks-teksfiqihklasikakantetapijugapadapendekatan-pendekatanrasional.

BAB III

PENUTUP

 

  1. Simpulan
  2. Masailfiqhiyahmerupakanmasalah-masalahbaru yang munculsetelahturunnya Al-Qur’andanhaditsdansetelahwafatnyaRasulullah Saw yang belumadaketentuanhokumsecarapasti, sehinggadalammencarijawabannyamemerlukankesepakatan para ulamadalammenentukanhukum yang diambildari Al-quran, Hadits, Ijma’, qiyas.
  3. Ruanglingkuppembahasanmasailfiqhiyahmeliputi
  4. Hubunganmanusiadengan Allah SWT
  5. Hubunganmanusiadenganmanusia
  6. Hubunganmanusiadengandirisendiri
  7. Hubunganmanusiadenganalamsekitar
  8. Tujuanmasailfiqhiyah

tujuan dari Masa’il fiqhiyah secara umum adalah untuk menjawab dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan baru yang muncul dalam masyarakat di kehidupan modern yang sering kali jadi pertanyaan-pertanyaan sehingga membutuhkan jawaban-jawaban logis tentang kepastian hukum. Sedangkan tujuan khususnya mempelajari Masail Fiqhiyah bagi kita calon-calon pendidik adalah agar nantinya ketika mengajar kita sudah siap dan dapat menjawab dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan serta pertanyaan-pertanyaaan yang mungkin muncul dari peserta didik.

 

Referensi

  1. https://www.slideshare.net/DiyachanstPasmada/pengertian-objek-kajian-masail-fiqhiyah-print
  2. Mahjuddin Masail Al-Fiqh Kasus-kasus aktual dalam hukum islam ( Jakarta : kalam mulia 2016 ) hal 1
  3. Ash-shiddiq, Hasby, FalsafahHukum Islam, BulanBintang, Yogyakarta, 1974.
  4. Kasdi,Abdurrohman, MasailFiqhiyyahKajianFiqihatasMasalah-masalahKontemporer,  Nora Media Enterprise, Kudus, 2011.
  5. Nata, Abuddin, Masail Al-fiqiyah, Preneda Media, Jakarta, 2003.
  6. Rahmat, Imdadun, KritikNalarFiqihNU :TransformasiParadigmaBahtsulMasail, Lakperdas, Jakarta, 2002.
  7. Qomaruzzaman, ParadigmaFiqhMasailKontekstualisasiHasilBahtsulMasail, Tim PembukuanManhajiBahtsulMasail, Kediri, 2003.
  8. MaktabahSyamilah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *