Poligami yang Adil dan Beradab

75 / 100

Poligami yang Adil dan Beradab

Oleh:
Ustadz Harry Santosa

Al Hadits.com – Cukup banyak istri atau ibu merasa gundah dan bingung, mereka datang ke saya meminta bantuan dan nasehat. Awalnya saya kira nasehat untuk mendidik anak, ternyata nasehat untuk menghadapi suami yang merengek bahkan memaksa poligami.

Saya sebenarnya agak kurang berminat membahas ini, karena saya sudah bisa memastikan bagaimana kondisi fitrah dan adab seorang suami yang merengek dan memaksa istrinya untuk menggoalkan obsesi poligaminya sehingga membuat istrinya gundah dan resah. Kenapa saya sebut obsesi, nanti saya bahas.

Para ibu atau istri yang terdesak itu juga memaksa saya agar memberikan nasehat bagaimana mensikapinya bahkan juga meminta saya untuk menasehati suaminya yang membuat resah itu.

Saya selalu mengawali pertanyaan, “Apa alasan suami untuk poligami?”
Jawabannya selalu sama, “menjalani syariat atau menjalani sunnah Nabi”

Terdengar klise banget ya.

Lalu saya tanya, “Apa ibu bersedia?”
Jawabannya selalu sama dan kompak, “Tidaaak…”

Teman teman yang baik, jangan buru buru tergesa menilai, bahwa para Ibu yang menolak suaminya poligami sebagai Istri yang tak sholehah dan tak taat pada suami, apalagi menentang syariah. Hindari sumbu pendek dan emosi dalam beragama. Agama itu datang agar manusia damai dan bahagia.

Justru kita harus menggali mengapa ada penolakan. Saya yakin, tiada perempuan yang suka dipoligami, namun saya juga yakin apabila alasannya berkualitas dan proven dalam perjalanan pernikahan, maka bisa jadi pertimbangan bahkan mendukung niat mulia suaminya.

Justru itulah problemnya, banyak suami ingin berpoligami, namun akhlaknya dan adabnya selama ini tidak proven atau tidak kredibel atau tidak menunjukkan adab yang membahagiakan anak dan istri.

Saya selalu mengatakan bahwa keinginan suami untuk poligami itu mulia, bagi wanita shalihah tentu harus mendukungnya. Itu adalah syariah. Namun kaidahnya adalah tiada syariah tanpa adab.

Pahami konsep adab dengan benar. Apa itu adab? Wujud adab adalah adil, lawannya zhalim. Adab adalah kedudukan atau peran manusia yang berperingkat atau berderajat sesuai fitrahnya dan dipandu Ilmu yang benar yang bersumber dari wahyu tentang hakekat kunci dalam kehidupan.

Dalam pernikahan, adab ini adalah diukur dari seberapa meyakini dan menjalani peran peran fitrah keayahbundaan, baik peran fitrah keayahan atau peran fitrah kebundaan, termasuk fitrah mendidik. Ada peran qowamah dan peran makmum yang harus dipahami dan diakui atau dijalankan sepenuh hati dan segenap usaha.

Lalu saya menggali kondisi keluarganya. Bukan kondisi materi, namun kondisi adab dan fitrahnya.

Ketika saya tanya, “Apa Misi Keluarga bunda? Apa Misi suami bunda?”
Nah, sampai sini, jawaban para ibu umumnya bertanya balik, “Apa itu Misi Keluarga?”

Saya jelaskan bahwa, “Misi Keluarga adalah peran fitrah ayah yang utama, sebagai adab kepemimpinannya. Misi Keluarga adalah Misi Perjuangan Suami yang didukung istri dan dilakukan bersama, yaitu untuk menyeru kebenaran atau untuk menolong agama Allah dalam suatu bidang spesifik yang sudah dilakukan selama ini dan membuat cinta kalian makin merekah indah. Apakah punya?”

Jawabannya, “Tidak ada….”

Saya tanya lagi, “Apakah suami bunda selama ini terlibat penuh dalam mendidik anak, sejak merancang sampai kepada pendampingan dalam pelaksanaannya?”

Jawabannya (umumnya), “Tidak pernah bahkan malas”

Saya tanya lagi, “Apakah suami bunda selama pernikahan, lebih sering membuat bunda bahagia atau lebih sering menderita?”

Jawabannya (umumnya), “…sedikit bahagia, lebih banyak bikin susah”

Nah, sudah saya duga, kebanyakan para suami yang merengek poligami bahkan memaksa istrinya, sesungguhnya tak memahami hakekat pernikahan dan hakekat poligami, ia tak paham makna adab dan fitrah, ia berpoligami bukan dalam rangka menjalankan peran fitrah imam atau qowamahnya, namun lebih karena kegalauannya atau ketiadabermaknaan dirinya, lalu menganggap poligami adalah solusinya.

Jelas saja istrinya bingung dan resah. Andaikan peran fitrah keayahannya dijalankan dengan baik sehingga bsrwujud menjadi beradab dan berkeadilan dalam sepanjang pernikahan, saya yakin, keinginan menambah pasukan dalam perjuangan mudah mudahan akan didukung oleh istri yang shalihah, walau tetap ada rasa cemburu.

Namun apabila peran fitrah keayahan tidak memenuhi adabnya, maka bagaimana ingin melebarkan perannya, sementara peran yang ada saja babak belur tidak ditunaikan.

Percayalah, keinginan berpoligami dalam keadaan seperti ini akan lebih banyak mudharatnya, berpotensi menzhalimi diri, pasangan dan keturunannya, bahkan keluarga besar dan masyarakatnya.

Sudah banyak contoh dari mereka yang berpoligami hanya obsesi semata, bukan misi yang besar yang merupakan peran fitrah keayahannya kemudian memunculkan banyak penderitaan. Maka para Ulama dengan tegas mengingatkan bahwa tiada syariah tanpa adab.

Karenanya bagi wanita shalihah, yang melihat kerja keras suaminya dalam menjalankan peran fitrah keayahannya, bagaimana suaminya berusaha keras mewujudkan misi perjuangan keluarganya di jalan Allah, berusaha keras urun fikiran, urun tindakan dalam mendidik anak dan istrinya, lalu berusaha keras membahagiakan pasangan dan anaknya, maka kemungkinan besar sang istri akan meminta suaminya untuk menambah dan melebarkan manfaatnya dengan poligami.

Karenanya bagi lelaki shalih yang berusaha memerankan fitrah keayahan dengan baik dan berupaya menjadi adil dan beradab pada pasangan dan keturunannya, memimpin perjuangan misi keluarga dalam menyeru kebenaran atau menolong ummat, kemudian mendidik anak istrinya dalam keimanan untuk berjuang bersama, maka memilih untuk berpoligami adalah hal yang sangat berat tanggungjawabnya di dunia dan di akhirat, ia akan berfikir seribu kali. Ia lelaki hebat yang bijak.

Salam Peradaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *