SEJARAH LENGKAP NABI IBRAHIM ALAIHISSALAM

94 / 100

SEJARAH LENGKAP NABI IBRAHIM

Nabi Ibrahim diutus untuk kaum bangsa Kaldea (Kaldiun), Babilonia. Namanya disebutkan 69 kali di dalam Al-Quran. Merupakan bagian dari nabi-nabi Ulul Azmi. Memiliki gelar khalilullah dan dikenal sebagai bapak para Nabi. Dianugrahkan suhuf serta pula mukjizat yang banyak.

Dikatakan oleh para sejarawan dan para ahli hadits bahwa ketika usia Azar memasuki 75 tahun, dia dikaruniai Ibrahim, Naahuur dan Haraan, kemudian Haraan dikaruniai anak bernama Luuth (yang kelak akan menjadi Nabi). Haraan telah wafat di tanah kelahirannya saat ayahnya masih hidup. Ibu Nabi Ibrahim bernama Nuunaa binti Karnabaa bin Kautsiy dari keturunan Arfakhsyad bin Saam bin Nuuh, demikian disebutkan Ibnu ‘Asaakir dengan sanadnya hingga Imam Muhammad Al-Kalbiy [Taariikh Dimasyq 6/171].

PROFIL NABI IBRAHIM

Nama dan nasabnya adalah Ibrahim Khaliilurrahman (kekasih Ar-Rahman) bin Azar -dia adalah Taarikh- bin Naahuur bin Syaarugh bin Arghu bin Faaligh bin ‘Aabir bin Syaalikh bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuuh -‘Alaihissalaam- bin Lamka (atau Lamak) bin Mattuusyalah bin Khanuukh -dia adalah Idriis ‘Alaihissalaam- bin Yaarid bin Mahlaayiil bin Qainaan bin Anuusy bin Syiits bin Adam -‘Alaihissalaam-. Seperti inilah yang disebutkan Al-Haafizh Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh-nya.

Aku membaca di hadapan Abu Muhammad ‘Abdul Kariim bin Hamzah, dari Abu Muhammad ‘Abdul ‘Aziiz bin Ahmad, telah memberitakan kepada kami Tammaam bin Muhammad Ar-Raaziy, telah memberitakan kepada kami Abul Haarits Ahmad bin Muhammad bin ‘Umaarah, telah mengkhabarkan kepada kami Ayahku, telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim, telah mengkhabarkan kepada kami Hisyaam bin ‘Ammaar, telah mengkhabarkan kepada kami Al-Waliid bin Muslim, dari Sa’iid bin ‘Abdul ‘Aziiz, dari Makhuul, dari Ibnu ‘Abbaas, bahwa Nabi Ibrahim dilahirkan di sebuah desa di wilayah Damaskus yang bernama Barzah yang terletak di atas gunung bernama Qaasiyuun. [Taariikh Dimasyq 6/164].

Al-Haafizh Ibnu ‘Asaakir (dan disetujui oleh Ibnu Katsiir) berkata bahwa yang shahih adalah beliau dilahirkan di Kautsiya, propinsi Baabil (Babilonia) di negeri ‘Iraaq. Dikatakan oleh para sejarawan dan para ahli hadits bahwa ketika usia Azar memasuki 75 tahun, dia dikaruniai Ibrahim, Naahuur dan Haraan, kemudian Haraan dikaruniai anak bernama Luuth (yang kelak akan menjadi Nabi). Haraan telah wafat di tanah kelahirannya saat ayahnya masih hidup. Ibu Nabi Ibrahim bernama Nuunaa binti Karnabaa bin Kautsiy dari keturunan Arfakhsyad bin Saam bin Nuuh, demikian disebutkan Ibnu ‘Asaakir dengan sanadnya hingga Imam Muhammad Al-Kalbiy [Taariikh Dimasyq 6/171].

Kuniyah Nabi Ibrahim

Kuniyah Nabi Ibrahim adalah Abu Adh-Dhiifaan seperti disebutkan dalam riwayat berikut : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Ahmad, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin ‘Umar Ar-Raqqiy, telah menceritakan kepada kami Qabiishah, telah menceritakan kepada kami Sufyaan, dari Ayahnya, dari ‘Ikrimah, ia berkata, “Ibrahim ‘Alaihissalaam dipanggil dengan Abu Adh-Dhiifaan.” [Hilyatul Auliyaa’ 3/335]

Para sejarawan menyebutkan, kemudian Ibrahim menikahi Sarah sementara Naahuur menikahi Malka, putri dari Haraan, artinya ia menikahi keponakannya sendiri. Sarah adalah seorang wanita yang mandul dan tidak bisa berketurunan. Selang beberapa waktu, Azar bersama Ibrahim, Sarah dan cucunya (yaitu Luuth putra Haraan) berangkat dari Kaldaan menuju Kan’aan, setibanya mereka di negeri Haran, Azar meninggal dunia pada usia 250 tahun. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju negeri Kan’aan dimana didalamnya terletak Baitul Maqdis dan mereka menetap disana. Pada saat itu, masyarakat yang membangun kota Damaskus adalah penyembah tujuh planet dengan ritualnya yang menghadap kutub selatan sebagi kiblat mereka. Oleh karena itu pada setiap pintu kota Damaskus yang berjumlah tujuh terdapat simbol tujuh planet tersebut.

sejarah lengkap nabi ibrahim

CARA NABI IBRAHIM MENDAKWAHKAN AYAHNYA

Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah Ar-Rahman, kepanjangan tanganNya dalam memberantas kesesatan dan kebathilan di muka bumi. Allah Ar-Rahman telah membingnya dari sejak kecil hingga beliau dewasa kemudian Allah memilihnya sebagai utusanNya kelak. Allah Ta’ala berfirman :

Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelumnya, dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. [QS Al-Anbiyaa’ : 51]

Allah memperlihatkan kepada Nabi Ibrahim tanda-tanda kekuasaanNya di langit dan di bumi agar beliau termasuk kepada orang-orang yang yakin. Allah berfirman :

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Aku tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. [QS Al-An’aam : 75-78]

Dan setelah beliau mantap dengan ‘aqidah tauhid, beliau pun berdakwah mengemban risalah Tuhannya. Yang pertama-tama beliau dakwahi adalah ayahnya, Azar.

Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan”. [QS Maryam : 42-45]

Ini adalah perkataan yang sangat lembut dari seorang Nabi dan Rasul kepada keluarganya sendiri. Nabi Ibrahim memberitahukan kepada sang ayah bahwa beliau telah diberi petunjuk dan bekal yang bermanfaat dari Tuhannya dan bahwa petunjuk tersebut khusus datang kepadanya, tidak kepada manusia di bumi pada zaman itu. Tatkala beliau menyampaikan nasehat ini maka Azar pun menentang dan mengancamnya.

Berkata ayahnya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama”. [QS Maryam : 46]

Perkataan Azar, tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama, dijawab oleh Nabi Ibrahim :

Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. [QS Maryam : 47-48]

Ibnu ‘Abbaas dan sejumlah ulama ahli tafsir menafsirkan ayat diatas, maksudnya Allah Ta’ala sangat lembut kepadaku dengan memberiku petunjuk agar aku menyembah semata-mata untukNya. Nabi Ibrahim memang telah memintakan ampun untuk ayahnya sebagaimana beliau janjikan, akan tetapi tatkala telah jelas baginya bahwa sang ayah adalah musuh Allah, beliau berlepas diri dari ayahnya. Allah Ta’ala berfirman :

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. [QS At-Taubah : 114]

KISAH SEDIH NABI IBRAHIM DI PADANG MAHSYAR

Al-Imaam Al-Bukhaariy meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, Dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam bertemu dengan ayahnya, Azar, pada hari kiamat. Ketika itu wajah Azar ada debu hitam, lalu Ibrahim berkata kepada ayahnya, “Bukankah aku sudah katakan kepadamu agar tidak menentang aku?”. Ayahnya berkata, “Hari ini aku tidak akan menentangmu.” Kemudian Ibrahim berkata, “Wahai Rabb, Engkau sudah berjanji kepadaku untuk tidak menghinakan aku pada hari kebangkitan. Lalu kehinaan apalagi yang lebih hina dari pada keberadaan ayahku yang jauh (dariku)?”

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku mengharamkan surga bagi orang-orang kafir.” Lalu dikatakan kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim, apa yang ada di kedua telapak kakimu?”. Maka Ibrahim melihatnya yang ternyata ada seekor anjing hutan yang kotor. Maka anjing itu diambil kakinya lalu dibuang ke neraka.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 3350]

NABI IBRAHIM MEMUSNAHKAN BERHALA

Kaum Baabil atau Babilonia adalah kaum penyembah berhala, mereka sangat tekun dalam peribadatan kepada berhala-berhala tersebut. Dalam ayat diatas dijelaskan bahwa mereka mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka, suatu kesamaan dengan kaumnya para Nabi sebelum Nabi Ibrahim bahwa sebetulnya kaum musyrikin tersebut tidak mempunyai hujjah yang jelas, mereka melakukan demikian hanya karena mengikuti kebiasaan pendahulu mereka.

Hal inilah yang kemudian dibantah oleh Nabi Ibrahim bahwa kaumnya berikut nenek moyang mereka berada dalam kesesatan yang nyata. Beliau menyampaikan hujjah yang tak terbantahkan bahwa yang menciptakan kalian adalah Allah, Tuhan langit dan bumi, serta yang mengurusi keduanya, maka hanya Dialah yang berhak untuk kalian sembah tanpa ada sekutu bagiNya. Kemudian beliau bersumpah melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala tersebut, maksudnya untuk memberi bukti bahwa berhala-berhala tidak mempunyai kuasa atas diri mereka.

Kaum Baabil pada waktu itu mempunyai perayaan di mana mereka berbondong-bondong menuju pusat kota setiap tahunnya. Azar mengundang Nabi Ibrahim untuk datang, namun ditolak beliau dengan mengatakan “aku sakit” seperti difirmankan Allah dalam surat Ash-Shaaffaat ayat 88 dan 89. Beliau melakukan ini agar beliau bisa menghinakan berhala-berhala tersebut dan mengungkapkan kebatilan kaumnya.

Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka, lalu ia berkata: “Apakah kamu tidak makan? Kenapa kamu tidak menjawab?” Lalu dihadapinya berhala-berhala itu sambil memukulnya dengan tangan kanannya (dengan kuat). [QS Ash-Shaaffaat : 91-93]

Berhala-berhala tersebut ditaruh di pelataran luas dan di hadapan mereka terdapat aneka macam makanan sebagai persembahan kepada berhala-berhala itu. Nabi Ibrahim mengolok-olok dan menghinakan mereka, kenapa mereka tidak makan makanan yang sudah disediakan di hadapan mereka? Kenapa mereka tidak menjawab olok-olokan beliau? Ini adalah bukti nyata bahwa berhala-berhala itu tidak kuasa berbuat apa-apa bahkan ia tidak kuasa hanya sekedar makan. Kemudian beliau mengayunkan tangan kanannya kemudian memukulnya, maka berhala-berhala tersebut berjatuhan satu dengan yang lainnya lalu beliau hancurkan dengan kapak sehingga hancur berkeping-keping kecuali berhala induk yang terbesar.

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. [QS Al-Anbiyaa’ : 58]

Sebuah riwayat mengatakan bahwa Nabi Ibrahim meletakkan kapak di tangan berhala induk sebagai simbol bahwa dia marah dan cemburu ketika dia disekutukan dengan berhala-berhala yang kecil. Sekembalinya kaum Baabil, mereka melihat apa yang terjadi terhadap berhala-berhala mereka. Mereka marah seraya berkata,

Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim”. [QS Al-Anbiyaa’ : 59]

Apa yang menimpa tuhan-tuhan mereka tersebut seharusnya membuat mereka berpikir karena jelas terlihat bahwa berhala-berhala itu tidak bisa menjaga diri mereka sendiri dari sesuatu yang membahayakannya, akan tetapi begitulah jika akal dan hati sudah tertutup oleh kesesatan.

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”. [QS Al-Anbiyaa’ : 60-61]

Inilah tujuan yang hendak dicapai oleh Nabi Ibrahim yaitu semua manusia berkumpul dan beliau berada di hadapan mereka untuk menjelaskan kebatilan keadaan mereka diperkuat dengan hujjah yang begitu jelas, karena akan lebih mudah bagi beliau untuk menjelaskan dakwahnya apabila manusia berkumpul di satu tempat. Maka tatkala mereka semua berkumpul, dibawalah Nabi Ibrahim ke tengah-tengah mereka, mereka bertanya kepada beliau,

Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”. Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”, kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”. Ibrahim berkata: “Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?” Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? [QS Al-Anbiyaa’ : 62-67]

Nabi Ibrahim memberi hujjah yang kuat untuk mereka, silahkan bertanya kepada berhala induk yang terbesar jika memang ia dapat menjawab pertanyaan kalian. Maka kaumnya pun tertunduk dan kembali pada kesadaran mereka dengan mencaci maki diri mereka sendiri dan mereka menganggap bahwa mereka telah menganiaya diri mereka karena meninggalkan berhala-berhala itu tanpa ada yang menjaganya.

Qataadah menafsirkan ayat ini bahwa kaum itu ditimpa kebingungan yang parah. Seketika itu Nabi Ibrahim berkata bahwa berhala-berhala tersebut tidak memberi manfaat kepada kalian dan tidak pula memberi mudharat maka mengapa kalian masih menyembahnya? Kalian akan celaka bila kalian masih tidak memahaminya. Maksudnya adalah berhala-berhala ini juga makhluk yaitu yang diciptakan oleh manusia, maka mengapa manusia menyembah sesuatu yang diciptakannya dengan tangannya sendiri dan tidak bisa memberi manfaat maupun mudharat? Mengapakah manusia tidak menyembah Dzat yang Maha Hidup yang telah menciptakan alam semesta ini berikut isinya?

Kaumnya sadar bahwa mereka telah kalah, mereka berpaling dari adu argumen selanjutnya karena mereka merasa tidak ada lagi hujjah yang mendukung mereka. Oleh karena itu, mereka mulai menggunakan kekuatan fisik untuk mengalahkan Nabi Ibrahim. Mereka bermaksud untuk membunuh beliau dengan cara membakarnya. Beginilah sifat orang kafir yang telah kalah berhujjah, mereka menggunakan kekerasan untuk membungkam kebenaran. Namun Allah Ta’ala tidak tinggal diam menghadapi muslihat mereka.

Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”. Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina. [QS Ash-Shaaffaat : 97-98]

SEBELUM DIBAKAR, NABI IBRAHIM DILEMPARKAN KEDALAM API MENGGUNAKAN PELONTAR

Mereka sangat marah kepada Nabi Ibrahim. Mereka segera mengumpulkan kayu bakar dari berbagai tempat. Mereka semua serentak melakukan pekerjaan itu, sampai-sampai ada seorang wanita yang sedang sakit dari kalangan mereka yang bernazar bahwa jika sembuh, ia akan membawa kayu bakar untuk membakar Nabi Ibrahim. Lalu kayu tersebut dibakar dan belum pernah ada kobaran api sedahsyat itu sebelumnya. Lalu beliau diletakkan diatas pelontar (manjaniq), dan kemudian dihempaskannya kedalam kobaran api yang menyala-nyala itu.

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki suku Kurdiy bernama Hazan, dialah orang yang pertama kali membuat manjaniq (alat pelontar batu kuno). Alat inilah yang digunakan oleh kaum Baabil untuk melontarkan Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api yang mana sebelumnya mereka telah mempersiapkan suatu lubang besar yang diisi oleh kayu-kayu bakar, kemudian mereka pun menyulut apinya, maka terciptalah api raksasa yang sangat dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mereka segera mengikat Nabi Ibrahim, menutup mata beliau dan menyumpal mulutnya. Nabi Ibrahim sabar dan tabah menghadapi bahaya yang mengancam nyawanya ini, beliau hanya mengucapkan ‘Hasbunallaah wa ni’mal wakiil’. Diriwayatkan oleh Al-Imaam Al-Bukhaariy dari sahabat Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma-,

“Hasbunallaah wa ni’mal wakiil adalah ucapan Ibrahim -‘Alaihissalaam- ketika dilemparkan ke dalam api. Juga diucapkan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam ketika orang-orang kafir berkata, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerangmu, karena itu takutlah kepada mereka!” Maka perkataan itu menambah keimanan mereka (kaum muslimin) dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 4563]

KONDISI NABI IBRAHIM DIDALAM API

Allah Ta’ala berfirman : Kami berfirman: “Hai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. [QS Al-Anbiyaa’ : 69-70]

Diriwayatkan oleh Ibnu Jariir, bahwa Ibnu ‘Abbaas berkata, seandainya Allah tidak berfirman, “Dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim,” niscaya dia akan terganggu oleh dinginnya api itu. [Tafsiir Ath-Thabariy 17/44].

Adh-Dhahhaak berkata, “Diriwayatkan bahwa malaikat Jibriil ketika itu bersama Nabi Ibrahim untuk menghilangkan keringat yang bercucuran dari wajahnya, dan api tidak mengenai Nabi Ibrahim sedikitpun.” Ismaa’iil As-Suddiy berkata, “Bersama mereka ada malaikat yang membawa kerindangan. Jadilah Ibrahim berada di lubang raksasa yang dikelilingi api namun sebenarnya ia berada dalam sebuah taman hijau sedangkan orang-orang hanya bisa melihatnya, mereka tidak dapat sampai kepadanya.”

Al-Haafizh Ibnu Abi Haatim meriwayatkan dari Al-Minhaal bin ‘Amr, ia berkata, “Aku diberitahu bahwa Ibrahim tinggal disana (di lubang api) selama 40 atau 50 hari dan beliau berkata, “Tidak ada hari maupun malam dalam hidupku yang lebih indah daripada ketika aku berada disana. Bahkan aku menginginkan agar seluruh hidupku seperti ketika aku berada disana.” [Tafsiir Ibnu Abi Haatim no. 13678]

Demikianlah, Allah Ta’ala menyelamatkan kekasihNya dari makar dan tipu daya orang-orang kafir. Oleh karena itu, mereka akan memperoleh kerugian ganda di dunia dan di akhirat. Adapun di akhirat, api yang mereka buat itu tidak akan menjadi dingin dan aman bagi mereka, melainkan akan menjadi seburuk-buruknya pendamping yang akan membakar mereka.

CICAK MEMBANTU MENIUP API KEPADA NABI IBRAHIM

Al-Imaam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits dari Saa’ibah maula Al-Faakih bin Al-Mughiirah, bahwa ia bertanya kepada ‘Aaisyah -radhiyallahu ‘anha,“Wahai Ummul Mu’miniin, apa yang akan kau lakukan terhadap anak panah ini?” Maka ‘Aaisyah menjawab,“Kami membunuh cicak. Karena Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepada kami bahwa Ibrahim ‘Alaihissalaam ketika dirinya dilemparkan ke dalam api, maka tidak ada seekor binatang melata pun kecuali mereka akan berusaha memadamkan api tersebut selain cicak, ia meniupkan api kepadanya sehingga beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuhnya.” [Musnad Ahmad no. 24013]

Al-Imaam Al-Bukhaariy meriwayatkan dari Sa’iid bin Al-Musayyib, dari Ummu Syariik Ghuzailah binti Daudaan -radhiyallahu ‘anha-, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cicak, beliau bersabda :

“Dahulu cicak membantu meniup api kepada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 3359]

 

KETIKA RAJA NAMRUD KALAH DEBAT DENGAN NABI IBRAHIM

Kisah ini terjadi setelah Nabi Ibrahim diselamatkan Allah Ta’ala dari kobaran api. Raja yang lalim tersebut bernama Namruudz, nama dan nasabnya adalah Namruudz bin Kan’aan bin Kuusya bin Haam bin Nuuh, ini adalah pendapat Mujaahid, Ibnu Jariir dan yang lainnya. Ulama lain berpendapat Namruudz bin Faaligh bin ‘Aabir bin Shaalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuuh. Al-Imaam Mujaahid berkata bahwa tidak ada raja yang memerintah di bumi kecuali empat orang, dua raja adalah orang mu’miin dan dua lagi adalah orang kaafir. Yang mu’miin adalah Sulaimaan bin Daawud dan Dzulqarnain sementara yang kaafir adalah Namruudz bin Kuusya dan Bukhtanashshar (dikenal dengan nama Nebukadnedzar).

Raja Namruudz adalah pemimpin dan penguasa masyarakat Baabil. Dikatakan ia telah hidup dan memerintah Babilonia jauh sebelum Nabi Ibrahim dilahirkan. Allah Ta’ala telah mengabadikan kisah perdebatan mereka dalam firmanNya : Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan)? Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Mematikan,” Maka orang itu berkata: “Aku dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” Lalu terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim. [QS Al-Baqarah : 258]

MUKJIZAT NABI IBRAHIM YANG TERLUPAKAN

Al-Imaam ‘Abdurrazzaaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Zaid bin Aslam, Zaid menyebutkan bahwa raja yang pertama kali memerintah di bumi adalah Namruudz. Dahulu dia adalah manusia yang mempunyai paling banyak makanan dan orang-orang bergantian mendatanginya. Kemudian keluarlah Ibrahim bersama orang-orang tersebut. Jika mereka melewatinya, maka Namruudz akan bertanya, “Siapa Rabb kalian?”

Mereka menjawab, “Engkau!” Hingga lewatlah Ibrahim di hadapannya. Namruudz bertanya, “Siapa Rabbmu?” Dijawab oleh Ibrahim, “Rabbku adalah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan,” Namruudz berkata, “Akulah yang menghidupkan dan mematikan,” Ibrahim membalas, “Sesungguhnya Allah yang menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat!” Maka terbungkamlah raja yang kafir itu, dan Ibrahim berlalu tanpa diberi makanan.

Zaid bin Aslam melanjutkan, ketika Ibrahim tiba di rumah keluarganya, ia melewati tumpukan pasir didekat kantong pasir kosong, ia berkata, “Aku tidak akan mendatangi keluargaku kecuali aku akan ambil sebagian dari pasir ini yang akan menyibukkan mereka ketika aku memasuki rumah.” Maka Ibrahim pun mengambil pasir tersebut dan memasuki rumah keluarganya kemudian ia meletakkannya dan pergi tidur.

Istrinya (Sarah) berdiri dan menghampiri kantong yang dibawa Ibrahim, ia pun membukanya, seketika itu juga ia melihat didalamnya bahan makanan yang berkualitas tinggi dan ia segera mengolahnya, kemudian ia membawanya kepada Ibrahim, pada waktu itu di keluarga tersebut belum pernah ada makanan lezat seperti itu. Maka bertanyalah Ibrahim, “Darimana makanan ini?” Istrinya menjawab, “Dari makanan yang kau bawa tadi,” Tahulah Ibrahim bahwa itu adalah rezeki dari Rabbnya dan ia pun mengucapkan syukur kepadaNya.

BEGINILAH NAMRUD DIAZAB OLEH ALLAH

Zaid bin Aslam berkata, kemudian Allah mengutus malaikat yang memerintahkan Namruudz untuk beriman kepada Allah dan meninggalkan kesombongannya. Namruudz menolaknya seraya berkata, “Apakah ada Rabb selainku?” Lalu datanglah malaikat yang kedua kali dan Namruudz mengatakan sama seperti pertama, ia menolaknya. Lalu datanglah malaikat yang ketiga kali dan Namruudz lagi-lagi menolaknya. Akhirnya malaikat berkata, “Kumpulkanlah pasukanmu selama tiga hari.”

Namruudz menjawab, “Aku akan mengumpulkan orang-orang yang kuat secara serempak.” Zaid berkata, Allah memerintahkan kepada malaikat untuk membuka pintu pasukan nyamuk hingga nanti Namruudz dan pasukannya tidak akan dapat melihat matahari sedikitpun (saking banyaknya nyamuk tersebut hingga memenuhi langit). Kemudian Allah mengirim pasukan nyamuk yang memakan daging pasukan Namruudz dan menghisap darah mereka hingga tidak ada lagi yang tersisa kecuali tulang belulang, dan sang raja kafir belum pernah mengalami sesuatu yang seperti ini.

Maka Allah mengirim nyamuk-nyamuk tersebut kepada Namruudz yang kemudian masuk ke tubuhnya melalui saluran pernapasannya dan menetap disana selama 400 tahun, menginfeksi kepalanya dan membuat orang-orang kasihan kepadanya, mereka berkumpul kemudian memukul-mukulkan kepala Namruudz (agar nyamuk-nyamuk tersebut keluar).

Namruudz memerintah selama 400 tahun, maka Allah mengadzabnya selama 400 tahun seperti lama kekuasaannya hingga ia pun dibinasakan Allah. Dahulu Namruudz membangun sebuah bangunan yang menjulang tinggi ke langit (sebagai tanda kekuasaan dan kesombongannya), maka Allah menghancurkannya dari fondasinya, seperti yang difirmankan Allah Ta’ala : Maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya. [QS An-Nahl : 26]

KISAH HIJRAH NABI IBRAHIM KE SYAM

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luuth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaaq dan Ya’quub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang shalih. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami lah mereka selalu menyembah. [QS Al-Anbiyaa’ : 71-73]

Nabi Ibrahim dan para pengikutnya pun hijrah menuju jalan Allah. Ikut bersama beliau diantaranya ayahnya, istrinya Sarah, keponakannya Luuth bin Haraan bin Azar, saudara kandung beliau Nahuur bin Azar dan istrinya Malka. Luuth bin Haraan ‘Alaihissalaam juga seorang Nabi yang kemudian hari nanti Allah akan utus beliau kepada penduduk negeri Saduum, mengenai kisah beliau akan ada bagian tersendiri, dengan izin Allah Ta’ala. Nabi Ibrahim keluar dari Baabil menuju sebuah negeri yang telah diberkahi Allah, dan negeri tersebut adalah negeri Syaam, demikianlah tafsir untuk ayat :

Dan inilah pendapat ‘Ubay bin Ka’b, Abul ‘Aliyah, Qataadah dan mayoritas para ahli tafsir. Ka’b Al-Ahbar berpendapat bahwa negeri yang dimaksud adalah negeri Harraan. Kedua pendapat yang kelihatannya bertentangan ini bisa dijamak. Al-Haafizh Ibnu Katsiir menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim dan keluarganya keluar dari Baabil menuju ke Syaam setelah peristiwa perdebatan dengan Namruudz raja Baabil, dan di tengah-tengah perjalanan, beliau sempat singgah di negeri Harraan dan di tempat inilah wafat Azar, ayah beliau. Kemudian beliau melanjutkan perjalanannya kembali menuju Syaam. Seperti inilah yang mendekati kebenaran. Allaahu a’lam.

PERJUMPAAN NABI IBRAHIM SERTA SARAH DENGAN RAJA MESIR YANG ZALIM

Setibanya di Syaam, beliau menuju sebuah wilayah bernama Tayammum. Wilayah ini pada waktu itu adalah wilayah yang dilanda bencana kelaparan dan kekeringan yang sangat parah. Beliau pun tidak tega melihat keadaan masyarakatnya, oleh karena itu beliau berangkat ke Mesir bersama Sarah guna mencari bantuan yang dapat digunakan untuk membantu masyarakat Tayammum. Di Mesir inilah, Nabi Ibrahim akan menjumpai penguasa Mesir yaitu Fir’aun yang kemudian terjadilah sebuah peristiwa yang melibatkan Sarah.

Menurut sebagian ahli sejarah, Fir’aun namanya adalah Sinaan bin Alwaan bin ‘Ubaid bin ‘Uwaij bin Imlaaq bin Laud bin Saam bin Nuuh, sedangkan Ibnu Hisyaam menyebutkan dalam kitab At-Tijaan, bahwa Fir’aun yang menginginkan Sarah adalah ‘Amr bin Imri’ Al-Qais bin Mailun bin Sabaa’ yang merupakan penguasa Mesir.

KISAH RAJA MESIR YANG HENDAK MEREBUT IBUNDA SARAH DARI IBRAHIM

Kisah Nabi Ibrahim dan Sarah dengan Fir’aun terekam dalam kitab-kitab hadits mu’tabar ahlussunnah. Seperti diriwayatkan oleh Al-Imaam Muslim rahimahullah, beliau berkata : Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thaahir, telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdullaah bin Wahb, telah mengkhabarkan kepadaku Jariir bin Haazim, dari Ayyuub As-Sakhtiyaaniy, dari Muhammad bin Siiriin, dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

“Sesungguhnya Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam tidak pernah berdusta sama sekali, kecuali pada tiga hal. Dua kali dusta yang berkaitan dengan Dzat Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu ucapan Nabi Ibrahim yang berbunyi, “Sesungguhnya Aku sakit (QS Ash-Shaaffaat : 89),” dan ucapannya yang berbunyi, “………tapi berhala yang paling besar itulah yang telah melakukannya (QS Al-Anbiyaa’ : 63),” serta dusta tentang Sarah yang ceritanya sebagai berikut.

Pada suatu ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihissalaam beserta istrinya yang cantik, Sarah, pergi ke suatu wilayah yang dikuasai oleh seorang penguasa yang kejam. Nabi Ibrahim berkata kepada istrinya, “Wahai istriku, ketahuilah jika penguasa yang kejam itu tahu bahwa kau adalah istriku, tentu ia akan membunuhku dan merebutmu dariku. Oleh karena itu, jika ia bertanya kepadamu, maka katakanlah kepadanya bahwa kamu adalah saudara perempuanku, dan kamu memang saudara perempuanku seagama (sama-sama Islam) dan lagi pula di bumi ini tidak aku temui seorang muslim kecuali aku dan kau.”

Maka ketika Nabi Ibrahim dan Sarah memasuki wilayah penguasa yang kejam itu, seorang punggawa sang penguasa melihat Sarah, kemudian ia melaporkan hal itu kepada sang penguasa. “Wahai tuan raja, sesungguhnya aku melihat seorang wanita datang ke wilayah kekuasaan tuan dan sepertinya tidak ada seorang pun yang pantas memiliki wanita tersebut selain tuan.”

KAROMAH IBUNDA SARAH YANG SOLEHAH

Akhirnya penguasa yang kejam itu mengutus para punggawa kerajaan untuk menemui Sarah sekaligus membawanya ke istana sang raja, sedangkan Nabi Ibrahim segera melaksanakan shalat dan berdo’a kepada Allah memohon keselamatan istrinya Sarah. Tiba-tiba saja tangan penguasa itu terasa terbelenggu dengan kuat. Lalu penguasa itu memohon kepada Sarah seraya berkata, “Wahai wanita cantik, berdo’alah kepada Tuhanmu agar Dia membebaskan tanganku dan aku berjanji tidak akan berbuat tak pantas kepadamu.”

Lalu Sarah pun berdo’a kepada Allah agar membebaskan tangan penguasa itu. Tetapi begitu terlepas, ternyata penguasa itu ingin menjamahnya lagi hingga tangannya terasa terbelenggu lebih kuat dari yang sebelumnya. Kemudian ia pun kembali memohon kepada Sarah untuk berdo’a seperti permohonan yang sebelumnya. Tetapi begitu terlepas, ternyata ia kembali ingin menjamah lagi hingga tangannya terasa terbelenggu lebih kuat lagi dari yang pertama dan yang kedua.

Lalu ia berkata kepada Sarah, “Wahai wanita cantik, berdo’alah kepada Tuhanmu agar Dia membebaskan tanganku dari belenggu ini. Demi Tuhan, aku berjanji tidak akan pernah lagi berbuat tak pantas kepadamu.” Kemudian Sarah pun berdo’a hingga tangan penguasa itu terbebas dari belenggu tersebut. Setelah itu, ia pun memanggil punggawanya yang telah membawa Sarah seraya berkata kepadanya, “Hai manusia, ketahuilah bahwa wanita yang kau bawa kepadaku itu adalah syetan dan bukan manusia. Oleh karena itu, bawalah ia keluar dari wilayah kekuasaanku dan berikanlah Hajar kepadanya sebagai pelayan.”

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lalu Sarah pergi dari istana sang penguasa itu dengan berjalan kaki. Ketika Nabi Ibrahim melihatnya, maka ia pun langsung menyambut dan mendekati seraya bertanya, “Bagaimana keadaanmu?” Sarah menjawab, “Segala Puji Bagi Allah, aku baik-baik saja. Allah telah menghalangi tangan penguasa yang kejam itu untuk menjamahku dan ia pun memberiku seorang pelayan.”

KELANJUTAN NASIB NABI IBRAHIM DAN SARAH

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Beliau (Hajar) itu adalah ibu kalian, wahai Bani Maa’is samaa’.” [Shahiih Muslim no. 2372; Kitab Fadhiilah; Bab Keutamaan-keutamaan Nabi Ibrahim Al-Khaliil ‘Alaihissalaam]

Ibnu Katsiir berkata, “Perkataan Nabi Ibrahim kepada Sarah, “Di bumi ini tidak aku temui seorang muslim kecuali aku dan kau,” maknanya adalah tidak ada suami istri yang beriman kepada Allah kecuali dirimu dan diriku saja, karena pada saat itu Luuth bersama mereka dan ia pun juga seorang Nabi yang sudah pasti beriman kepada Allah Ta’ala.”

Sementara yang dimaksud Bani Maa’is samaa’ adalah keseluruhan orang-orang ‘Arab, penasaban dan kemurnian mereka. Dikarenakan banyak dari mereka yang menjadi penggembala dan sumber penghidupan mereka ada di padang rumput dan bercocok tanam yang diberi air dari langit, oleh karena itu mereka dinamakan Bani Maa’is samaa’, demikian penjelasan Al-Imaam An-Nawawiy rahimahullah dalam Syarh Shahiih Muslim.

Kemudian Nabi Ibrahim beserta Sarah kembali dari Mesir menuju wilayah Tayammum, yaitu ardh Al-Muqaddasah (tanah yang disucikan) yang dahulu mereka tempati, kali ini dengan membawa binatang-binatang ternak, para budak dan harta yang melimpah pemberian dari Fir’aun Mesir, dan diantara mereka ada Hajar Al-Qibthiyyah, budak hadiah dari Fir’aun Mesir.

Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepada Nabi Ibrahim dan memerintahkan beliau untuk meluaskan pandangannya dan melihat ke arah selatan, utara, timur dan barat dan memberi beliau kabar baik bahwa bumi dan seisinya akan diperuntukkan bagi beliau dan keturunan-keturunan beliau yang kelak akan menggantikannya hingga akhir masa. Berita gembira ini terhubung dengan umat Nabi Muhammad karena beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, seperti diriwayatkan Al-Imaam Muslim :

Telah menceritakan kepada kami Abu Ar-Rabii’ Al-‘Atakiy dan Qutaibah bin Sa’iid, keduanya dari Hammaad bin Zaid dan lafazh ini adalah lafazh Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Hammaad, dari Ayyuub, dari Abu Qilaabah, dari Abu Asmaa’, dari Tsaubaan, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menghimpunkan bumi untukku lalu aku dapat melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku.

Aku diberi dua harta simpanan yaitu merah dan putih, dan sesungguhnya aku meminta Rabbku untuk ummatku agar tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, agar Dia tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri lalu menyerang perkumpulan mereka, dan sesungguhnya Rabbku berfirman, “Hai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir maka tidak bisa diubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, Aku tidak memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka meski mereka dikepung dari segala penjurunya hingga sebagaian dari mereka membinasakan sebagaian lainnya dan saling menawan satu sama lain.”

[Shahiih Muslim no. 2891; Kitab Al-Fitan; Bab Kebinasaan Umat karena Saling Bermusuhan]

KETIKA HAJAR MENGANDUNG

Sarah tidak bisa memberikan keturunan kepada Nabi Ibrahim, oleh karena itu ketika ia mendapati Hajar Al-Qibthiyyah hamil dan mengandung anak Nabi Ibrahim, Sarah pun cemburu, suatu sifat normal dan fithrah yang dimiliki oleh perempuan. Semakin hari kecemburuan tersebut semakin besar apalagi ketika lahirlah Ismaa’iil ‘Alaihissalaam, maka Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk memisahkan Hajar dan Ismaa’iil dari Sarah kemudian Nabi Ibrahim membawa pergi keduanya menjauhi Sarah ke arah negeri Makkah dimana Ismaa’iil akan menjadi Nabi bangsa Arab dan kelak dari keturunannya akan lahir manusia paling mulia, Nabi akhir zaman, utusan Allah untuk semua umat manusia, Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Inilah rencana besar Allah terhadap Ismaa’iil dan terhadap umat manusia pada umumnya, dan Allah Ta’ala selalu memiliki hikmah dari setiap takdir dan ketentuanNya. Kisah ini direkam oleh Al-Imaam Al-Bukhaariy rahimahullah dalam kitab shahihnya pada sebuah kisah yang panjang.

Menurut buku Qishash al Anbiya buku koleksi kisah-kisah tentang para nabi, Hajar adalah seorang anak raja Maghreb, leluhur dari para nabi-nabi dalam Islam. Ayahnya dibunuh oleh Firaun yang bernama Dhu l-‘arsh dan ia ditawan dan dijadikan budak. Karena ia masih golongan bangsawan, maka ia akan dijadikan selir dan bisa memasuki kemakmuran Firaun. Melalui percakapan dengan keyakinan Ibrahim, sang Firaun memberikan Hajar kepada Sarah yang akan memberikannya kepada Ibrahim. Menurut kisah Islam lainnya, Hajar adalah anak dari raja Mesir, yang diberikan kepada Ibrahim sebagai istrinya.

 

KISAH SEDIH SAAT IBUNDA HAJAR DIASINGKAN KARENA SARAH CEMBURU

 

Setelah Hajar melahirkan Ismail, maka Nabi Ibrahim cenderung kepada Hajar juga kemudian karena itu membuat Sarah cemburu berat kepada Hajar. Syaikh Abu Muhammad bin Abu Zaid menuturkan dalam An-Nawadir, Sarah benar-benar marah terhadap Hajar hingga bersumpah akan memotong tiga bagian tubuhnya. Ibrahim kemudian menyuruh Sarah untuk menindik kedua telinga Hajar dan menyunatnya. Dengan demikian terbebaslah dari sumpahnya.

Telah menceritakan kepadaku ‘Abdullaah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Ayyuub As-Sakhtiyaaniy dan Katsiir bin Katsiir bin Al-Muththalib bin Abu Wadaa’ah, redaksi keduanya saling melengkapi satu sama lain, dari Sa’iid bin Jubair, Ibnu ‘Abbaas -radhiyallahu ‘anhuma- berkata, “Wanita pertama yang menggunakan ikat pinggang adalah Ummu Ismaa’iil ‘Alaihissalaam.

Dia menggunakannya untuk menghilangkan jejak dari Sarah kemudian Ibrahim ‘Alaihissalaam membawanya berserta anaknya Ismaa’iil yang saat itu ibunya masih menyusuinya hingga Ibrahim ‘Alaihissalaam menempatkan keduanya dekat Baitullah pada sebuah gubuk di atas zamzam di pinggir Al-Masjidil Haraam. Waktu itu di negeri Makkah tidak ada seorangpun yang tinggal di sana dan tidak ada pula air. Ibrahim menempatkan keduanya disana, meninggalkan sekarung kurma dan kantung/geriba berisi air.

Kemudian Ibrahim pergi meninggalkan keduanya. Maka Ummu Ismaa’iil mengikutinya seraya berkata, “Wahai Ibrahim, hendak kemana kau pergi? Apakah kau (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apapun ini?” Ummu Ismaa’iil terus mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Akhirnya Ummu Ismaa’iil bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu atas semuanya ini?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Ummu Ismaa’iil berkata, “Jika begitu maka Allah tidak akan menelantarkan kami.”

KELANJUTAN KISAH IBUNDA HAJAR YANG HARUS DIASINGKAN

Kemudian Ummu Ismaa’iil kembali dan Ibrahim melanjutkan perjalanannya hingga ketika sampai pada sebuah bukit dan ia tidak terlihat lagi oleh mereka, Ibrahim menghadap ke arah Ka’bah lalu berdo’a untuk mereka dengan beberapa kalimat do’a dengan mengangkat kedua belah tangannya, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu yang disucikan, -hingga sampai kepada- semoga mereka menjadi hamba-hamba yang bersyukur [QS Ibrahim : 37].”

Kemudian Ummu Ismaa’iil mulai menyusui anaknya dan minum dari kantung air persediaan hingga ketika air yang ada didalamnya mulai habis, dia menjadi haus begitu pula anaknya. Lalu dia memandang kepada Ismaa’iil sang bayi yang sedang meronta-ronta -atau Ibnu ‘Abbaas berkata, “Berguling-guling diatas tanah.”- Kemudian Hajar meninggalkan Ismaa’iil karena kasihan melihat keadaannya. Maka dia mendatangi bukit Shafaa sebagai bukit yang paling dekat keberadaannya dengannya.

Dia berdiri disana lalu menghadap ke arah lembah dengan harapan dapat melihat orang di sana namun dia tidak melihat seorang pun. Maka dia turun dari bukit Shafaa dan ketika sampai di lembah dia menyingsingkan ujung pakaiannya lalu berusaha keras menempuhnya layaknya seorang manusia yang berjuang keras hingga ketika dia dapat melewati lembah dan sampai di bukit Marwah lalu berdiri di sana sambil melihat-lihat apakah ada orang di sana namun dia tidak melihat ada seorang pun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali (antara bukit Shafaa dan Marwah).”

Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Itulah ibadah sa’iy yang mesti dilakukan oleh manusia (yang melaksanakan ibadah haji) antara kedua bukit itu.”

Ibnu ‘Abbaas melanjutkan, “Ketika berada di puncak Marwah, Ummu Ismaa’iil mendengar ada suara, lalu dia berkata dalam hatinya, “Diamlah!” yang Hajar maksud adalah dirinya sendiri. Kemudian dia berusaha mendengarkannya, ternyata dia dapat mendengar suara itu lagi, maka suara itu berkata, “Kau telah memperdengarkan suaramu jika bermaksud meminta pertolongan.”

Ternyata suara itu adalah suara malaikat (Jibriil ‘Alaihissalaam) yang berada di dekat zamzam, lantas Jibriil mengais tanah dengan tumitnya -atau dengan sayapnya- hingga air keluar memancar. Ummu Ismaa’iil mulai membuat tampungan air dengan tangannya seperti ini, yaitu menampung air dan memasukkannya ke geriba sedangkan air terus saja memancar dengan deras setelah ditampung.

Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah merahmati Ummu Ismaa’iil karena kalau dia membiarkan air zamzam -atau sabda beliau, “Kalau dia tidak segera menampung air tentulah air zamzam itu akan menjadi air yang mengalir.”- Akhirnya Ummu Ismaa’iil dapat meminum air dan menyusui anaknya kembali. Kemudian malaikat Jibriil berkata kepadanya, “Janganlah kalian takut ditelantarkan karena disini adalah rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya.”

KEDATANGAN BANGSA JURHUM UNTUK MENEMANI IBUNDA HAJAR DAN ISMAIL

Pada saat itu Ka’bah Baitullah posisinya agak tinggi dari permukaan tanah seperti sebuah bukit kecil, yang apabila datang banjir maka tanah akan terkikis dari samping kanan dan kirinya. Ummu Ismaa’iil, Hajar, terus melewati hidup seperti itu hingga kemudian melintaslah serombongan kaum dari kabilah Jurhum atau keluarga Jurhum yang datang dari jalur bukit Kadaa’ lalu singgah di hilir Makkah kemudian mereka melihat ada seekor burung sedang terbang berputar-putar.

Mereka berseru; “Burung itu pasti berputar karena mengelilingi air padahal kita mengetahui secara pasti bahwa di lembah ini tidak ada air.” Akhirnya mereka mengutus satu atau dua orang yang larinya cepat dan ternyata mereka menemukan ada air. Mereka kembali kepada kaumnya dan mengkhabarkan keberadaan air tersebut, lalu mereka mendatanginya. Ibnu ‘Abbaas berkata, “Saat itu Ummu Ismaa’iil sedang berada di dekat air.

Mereka bertanya kepadanya, “Apakah kau mengizinkan kami untuk singgah bergabung denganmu di sini?” Ummu Ismaa’iil berkata, “Ya, tapi kalian tidak berhak memiliki air ini.” Mereka berkata, “Baiklah.” Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ummu Ismaa’iil senang karena ada orang-orang yang akan tinggal bersamanya.” Akhirnya kabilah itu pun tinggal disana dan mengirim utusan kepada keluarga mereka untuk mengajak mereka tinggal bersama-sama disana.”

Ketika para keluarga mereka sudah tinggal bersama Hajar dan Ismaa’iil ‘Alaihissalaam sudah beranjak usia belia, dia belajar berbahasa Arab dari kabilah tersebut bahkan ia menjadi manusia paling berharga dan paling menakjubkan di kalangan mereka. Kemudian Ismaa’iil tumbuh menjadi seorang pemuda yang disenangi oleh mereka. Setelah ia dewasa, mereka menikahkan Ismaa’iil dengan seorang wanita dari mereka dan tak berapa lama kemudian Ummu Ismaa’iil meninggal dunia.

Sumber: Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibn Kathir

MISTERI MAKHLUK AL-KHAJUJ

As Suddiy mengatakan bahwa tatkala Allah swt memerintahkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail agar membangun sebuah rumah lalu mereka berdua tidak mengetahui dimana tempat akan dibangunnya hingga Allah mengirimkan angin, ada yang menyebutkan angin itu adalah al khajuj yang memiliki dua sayap sementara kepalanya berbentuk ular. Lalu ular itu membersihkan daerah sekitar ka’bah sebagai tempat dibangunnya rumah pertama. Keduanya pun mengikutinya dengan membawa alat penggali dan melakukan penggalian sehingga mereka berdua berhasil meletakkan pondasinya, sebagaimana firman Allah swt yang Artinya : “Dan (ingatlah), ketika kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah.” (QS. Al Hajj : 26)

Namun dari buku Prof. Dr. Ali Husni Kharbuthli menyebutkan bahwa khajuj ini sebenarnya angin putting beliung yang meliuk-liuk seperti ular.

Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan, Baitul makmur itu adalah ka’bah bagi penghuni langit ketujuh. Untuk itu, Nabi Muhammad melihat Nabi Ibrahim menyandarkan punggungnya di Baitul Makmur. Karena beliau yang membangun Ka’bah di bumi, dan balasan sejenis dengan amal. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/428).

At-Thabari meriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib tentang Baitul Makmur. Jawaban Ali. “Itu adalah bangunan di langit, sejajar dengan Ka’bah. Kemuliaan bangunan ini di langit sebagaimana kemuliaan Ka’bah di bumi. Setiap hari dimasuki oleh 70.000 malaikat, dan mereka tidak kembali lagi.” (Tafsir at-Thabari 22/455).

At-Thabari juga menyebutkan riwayat yang mursal dari Qatadah, beliau mengatakan, Sampai kepada kami informasi bahwa satu hari, Nabi pernah bersabda di hadapan para sahabatnya, “Tahukah kalian, apa itu Baitul Makmur?” jawab beliau, “Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu.” Lalu beliau menjelaskan, “Baitul Makmur adalah bangunan masjid di langit, tepat di bawahnya adalah Ka’bah. Andai masjid ini jatuh, dia akan jatuh di atas Ka’bah.” (Tafsir at-Thabari 22/456).

Sumber: Qishahsul Anbiya, Ibn Kathir & Tarikh Ka’bah, Prof. Dr. Ali Husni Kharbuthli

REKOR NABI IBRAHIM

“Nabi Ibrahim adalah orang pertama yang menjamu tamu, orang pertama yang berkhitan, orang pertama yang memotong kumis, dan orang pertama yang melihat uban lalu berkata: Apakah ini wahai Tuhanku? Maka Allah berfirman: kewibawaan wahai Ibrahim. Nabi Ibrahim berkata: Wahai Tuhanku, tambahkan aku kewibawaan itu.” (HR. Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod 120, Imam Malik dalam Al-Muwatto’ 9/58)

Ubaid bin Umar meriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang senang menerima tamu. Bahkan ketika suatu hari ia tidak kedatangan tamu, ia memutuskan untuk keluar rumah dan mencari tamu yang dapat mengunjunginya. Namun ia tetap tidak mendapatkannya. Setelah pulang, ternyata di rumahnya sudah ada lelaki tegap yang bertamu. Nabi Ibrahim bertanya, “Wahai hamba Allah, mengapa kamu memasuki rumahku tanpa seizinku?” Tamu itu menjawab, “Aku masuk ke rumah ini atas seizin tuan (atau Allah) pemiliknya.” Nabi Ibrahim bertanya lagi, “Siapakah anda sebenarnya?” Tamu itu menjawab, “Aku adalah malaikat maut. Aku diutus oleh Tuhanku pada salah satu hamba-Nya untuk mengabarkan padanya bahwa ia dipilih oleh Allah sebagai kesayangan-Nya.”

Nabi Ibrahim semakin bingung dan bertanya, “Siapakah hamba yang engkau maksud? Demi Allah, jika engkau memberitahukan siapa orang itu dan ia tinggal jauh dari sini, aku akan tetap menemuinya, dan aku akan selalu membuntutinya ke manapun ia pergi hingga maut memisahkan.” Malaikat maut menjawab, “Hamba itu adalah engkau sendiri.” Nabi Ibrahim terkejut dan memastikan, “Benar-benar aku?” Malaikat maut menjawab, “Ya, benar.” Nabi Ibrahim bertanya, “Apakah alasan Tuhanku hingga membuat aku istimewa seperti itu?” Malaikat maut menjawab, “Karena engkau pandai memberi dan tak pernah meminta.” [HR Ibnu Hatim].

Sumber: Qishahsul Anbiya, Ibn Kathir

NABI IBRAHIM PUNYA 4 ISTRI

Dalam Qishashul Anbiya karya Ibnu Katsir, disebutkan anak pertama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah Ismail, yang dilahirkan oleh Hajar Al-Qibtiyah Al-Misriyah. Kemudian Sarah melahirkan Ishaq. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang kemudian menikahi Kentura binti Yekton Al-Kan’aniyah dianugerahi enam anak, yakni Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak, dan Suah. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam kemudian menikahi Hajun binti Amin, dan dianugerahi Kisan, Suraj, Amim, Luthan, dan Nafis. Begitulah yang disebutkan oleh Abul Qasim As-Suhaili dalam kitab “At-Ta’rif wa Al-I’lam”.

Sumber: Qishashul Anbiya, Ibnu Katsir

 

2 thoughts on “SEJARAH LENGKAP NABI IBRAHIM ALAIHISSALAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *