Sejarah Lengkap Nabi Ismail Alaihissalam

91 / 100

Sejarah Lengkap Nabi Ismail Alaihissalam

Beliau adalah putra dari Nabi Ibrahim alaihissalam. Kisah ini merupakan kelanjutan dari kisah sebelumnya. Yaitu kisah tentang Nabi Ibrahim Alaihissalam. Bagi para pengunjung yang belum sempat membaca sejarah lengkap nabi Ibrahin ada baiknya membaca terlebih dahulu. Karena di postingan ini kami akan memulai dari pernikahan Nabi Ismail Alaihissalam.

Baca Selengkapnya : Kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam

sejarah lengkap nabi ibrahim

KISAH PERNIKAHAN NABI ISMAIL

 

Di kemudian hari Nabi Ibrahim datang setelah pernikahan Nabi Ismail untuk mencari tahu keadaan keluarga yang telah ditinggalkannya, namun dia tidak menemukan Nabi Ismail dirumahnya. Nabi Ibrahim bertanya tentang Nabi Ismail kepada istrinya Nabi Ismail. Istrinya menjawab, “Nabi Ismail sedang pergi mencari nafkah untuk kami.” Lalu Nabi Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Istri Nabi Ismail menjawab, “Kami mengalami banyak kesulitan, hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat.” Istri Nabi Ismail mengadukan kehidupan yang dijalaninya bersama suaminya kepada Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim berkata, “Apabila suamimu tiba, tolong sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah daun pintu rumahnya.” Ketika Nabi Ismail tiba, dia merasakan ada sesuatu lalu dia bertanya kepada istrinya, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua yang keadaannya begini dan begitu, datang kepadaku dan dia menanyakan kau lalu aku beritahu, dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahwa kita hidup dalam kesulitan dan penderitaan.”

Nabi Ismail bertanya, “Apakah orang itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Istrinya menjawab, “Ya. Dia memerintahkan aku agar menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kau mengubah daun pintu rumahmu.” Nabi Ismail berkata, “Dia adalah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu maka itu kembalilah kamu kepada keluargamu.” Maka Nabi Ismail menceraikan istrinya.

Kemudian Nabi Ismail menikah lagi dengan seorang wanita lain dari penduduk itu lalu Nabi Ibrahim pergi lagi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah dan setelah itu datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak mendapatkan Nabi Ismail hingga akhirnya dia mendatangi istri Nabi Ismail lalu bertanya kepadanya tentang putranya. Istrinya menjawab, “Nabi Ismail sedang pergi mencari nafkah untuk kami.”

Lalu Nabi Ibrahim bertanya lagi, “Bagaimana keadaan kalian?” Dia bertanya kepada istrinya Nabi Ismail tentang kehidupan dan keadaan hidup mereka. Istrinya menjawab, “Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan berkecukupan.” Istri Nabi Ismail kemudian memuji Allah. Nabi Ibrahim bertanya, “Apa makanan kalian?” Istri Nabi Ismail menjawab, “Daging.” Nabi Ibrahim bertanya lagi, “Apa minuman kalian?” Istri Nabi Ismail menjawab, “Air.”

Maka Nabi Ibrahim berdo’a, “Ya Allah, berkahilah mereka dalam daging dan air mereka.” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saat itu belum ada biji-bijian di Makkah dan seandainya ada tentu Nabi Ibrahim sudah mendo’akannya.” Sabda beliau lagi, “Dan dari do’a Nabi Ibrahim tentang daging dan air itulah, tidak ada seorangpun selain penduduk Makkah yang mengeluh bila yang mereka dapati hanya daging dan air.” Nabi Ibrahim selanjutnya berkata, “Jika nanti suamimu tiba, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkokoh daun pintu rumahnya.”

Ketika Nabi Ismail datang dia bertanya, “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Istrinya menjawab, “Ya. Tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepadaku,” Istrinya mengagumi Nabi Ibrahim, ia melanjutkan, “Dia bertanya kepadaku tentangmu maka aku terangkan lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita maka aku jawab bahwa kita dalam keadaan berkecukupan.” Nabi Ismail bertanya, “Apakah orangtua itu memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Istrinya menjawab, “Ya, dia memerintahkan aku agar menyampaikan salam kepadamu dan berpesan agar kau mempertahankan daun pintu rumahmu.” Nabi Ismail berkata, “Dia adalah ayahku dan daun pintu yang dimaksud adalah kau. Dia memerintahkanku untuk mempertahankanmu.” Kemudian Nabi Ibrahim meninggalkan mereka lagi untuk jangka waktu tertentu sebagaimana dikehendaki Allah.

SIAPAKAH ISTRI NABI ISMAIL?

Al Umawi mengatakan isteri Isma’il yang pertama bernama Imarah Binti Sa’ad bin Usamah bin Uqail Al Amaliki. Kemudian ia menceraikannya karena pengarai buruk yang dimiliki istri pertamanya. Setelah itu Isma’il menikahi wanita lain, wanita itu bernama Sayyidah binti Madhadh bin Amr Al Jurhumi. Ada yang mengatakan, bahwa wanita itu adalah isteri ketiganya. Dari wanita itu isma’il mempunyai duabelas anak laki-laki, yang oleh Muhammad bin Ishak menyebut sebagai berikut: Nabit, Kaidar, Wazbil, Maisyi, Masmak, Maasy, Daush, Arar, Yathur, Nabasy, Thaima, dan Kaizama. Demikian itulah nama-nama yang disebut oleh Ahlul kitab dalam kitab mereka.

NABI ISMAIL ORANG YANG PERTAMA KALI MENAIKI KUDA

Ibn Kathir menjelaskan bahwa para ulama ahli nasab dan sejarah menyebutkan bahwa Ismail adalah orang yang pertama kali mengendarai kuda. Sebelum itu, kuda masih tergolong binatang liar. Selanjutnya, binatang liar itu (kuda) ditundukkan oleh Nabi Ismail sehingga menjadi hewan yang jinak dan nyaman ditunggangi sebagai kendaraan. Sa’d bin Yahya Al-Umawi menjelaskan dalam kitabnya, Al-Maghazi, “seorang syakh dari suku Qurays pernah menceritakan kepada kami, Abdul malik bin Abd Aziz pernah bercerita kepada kami, dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah bersabda, “milikilah kuda dan jadikanlah ia warisan diantara kalian karena kuda sesungguhnya merupakan warisan dari orang tua kalian, yaitu ismail”.

Dalam kitabnya al-Awail, Syekh Abu Hilal al-Askary mengungkapkan, sosok sekaligus nabi pertama yang mengendari kuda adalah Ismail AS. Dikisahkan, pada masa itu, kuda dikenal sebagai binatang liar dan sulit ditaklukkan. Nabi Ismail dengan gagah berani, mendekati kuda dan memeliharanya. Setelah beberapa waktu, kuda tersebut menjadi jinak dan mudah dikendalikan.

Sumber: Qishahsul Anbiya, Ibn Kathir

NABI ISMAIL DAN IBRAHIM BERJUMPA KEMBALI SETELAH SEKIAN LAMA

Setelah sekian lama berpisah, Nabi Ibrahim  kembali berjumpa dengan anaknya dan ketika itu Nabi Ismail sedang meletakkan anak panahnya di bawah sebatang pohon dekat zamzam. Ketika Nabi Ibrahim melihatnya, dia segera menghampirinya dan mereka melepas rindu sebagaimana layaknya seorang ayah terhadap anaknya dan seorang anak terhadap ayahnya, kemudian dia berkata, “Wahai Nabi Ismail, Allah telah memerintahkanku dengan suatu perintah.” Nabi Ismail berkata, “Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabbmu.” Nabi Ibrahim berkata lagi, “Apakah kamu akan membantu aku?” Nabi Ismail berkata, “Ya, tentu aku akan membantumu.” Nabi Ibrahim berkata, “Allah telah memerintahkanku agar membangun rumahNya di tempat ini.” Nabi Ibrahim menunjuk ke arah suatu tempat yang agak tinggi di banding sekelilingnya.

Perawi hadits berkata, “Dari tempat itulah keduanya meninggikan pondasi Baitullah, Nabi Ismail bekerja mengangkut batu-batu sedangkan Nabi Ibrahim yang menyusunnya (membangunnya) hingga ketika bangunan sudah tinggi, Nabi Ismail datang membawa sebuah batu lalu meletakkannya untuk Nabi Ibrahim (sebagai pijakan) agar bisa naik di atasnya sementara Nabi Ismail melanjutkan memberikan batu-batu. Keduanya bekerja sambil mengucapkan kalimat do’a, “Wahai Rabb kami, terimalah (amalan) dari kami, sesunggunya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” Keduanya terus saja membangun hingga mengelilingi Baitullah dan keduanya terus membaca do’a, “Wahai Rabb kami, terimalah (amalan) dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui [QS Al-Baqarah : 127].”

SIAPAKAH YANG DISEMBELIH OLEH NABI IBRAHIM?

 

Mayoritas umat Islam sepakat bahwa anak yang disembelih adalah Ismaa’iil ‘Alaihissalaam, hanya beberapa yang mempunyai pendapat bahwa anak yang disembelih adalah Ishaaq ‘Alaihissalaam, dan ini adalah syaadz.

.

Allah Ta’ala berfirman menceritakan kisah penyembelihan Ismaa’iil :

.

Dan Ibraahiim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibraahiim, Ibraahiim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibraahiim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibraahiim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibraahiim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibraahiim”.

Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang shalih. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang lalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. [QS Ash-Shaaffaat : 99-113]

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan mengenai kekasihNya, Ibraahiim ‘Alaihissalaam, bahwa ketika hijrah dari negeri kaumnya, beliau meminta kepada Tuhannya agar dianugerahi anak yang shalih, maka Allah Ta’ala memberitahukan khabar gembira bahwa beliau akan mendapatkan anak laki-laki yang santun, yaitu Ismaa’iil ‘Alaihissalaam karena ia merupakan anak pertama darinya di saat usia beliau sudah memasuki 86 tahun. Ini adalah sesuatu yang tidak ada perselisihan oleh para ulama.

Maksud firman Allah, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibraahiim,” artinya setelah dewasa dan jadilah ia dapat berusaha demi kemaslahatannya sendiri seperti ayahnya. Al-Imam Mujaahid Al-Makkiy rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah beranjak dewasa dan mampu mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan oleh ayahnya berupa usaha dan pekerjaan. Maka disaat itulah Ibraahiim bermimpi bahwa ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhaariy rahimahullah dari sahabat Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma :

“Mimpinya para Nabi adalah sebuah wahyu.” [Shahiih Al-Bukhaariy no. 138]

NABI IBRAHIM MEMINTA KESEDIAAN NABI ISMAIL UNTUK DISEMBELIH

‘Ubaid bin ‘Umair rahimahullah berkata pula bahwasanya ini adalah ujian Allah kepada kekasihNya agar ia menyembelih anaknya yang ia cintai yang dianugerahkan disaat Nabi Ibraahiim sudah memasuki usia lanjut, kebersamaan mereka terpangkas oleh karena beliau diperintahkan Allah Ta’ala untuk mengungsikan Ismaa’iil dan ibunya di sebuah negeri yang miskin dan lembah yang tidak ditumbuhi rerumputan, tanaman dan tidak ada air. Maka Nabi Ibraahiim pun mematuhi perintah Allah dengan meninggalkan mereka berdua disana seraya percaya dan bertawakkal kepadaNya, oleh karena itu Allah Ta’ala mudahkan rizki mereka dan memberikan jalan keluar yang tidak terduga.

Kemudian, tatkala diperintahkan untuk menyembelih anak semata wayangnya, anak yang sangat beliau idam-idamkan sejak dahulu, Nabi Ibraahiim justru menuruti perintah Tuhannya bahkan bersegera melaksanakannya, ini menunjukkan keta’atan yang luar biasa kepada perintah Allah Ta’ala.

Nabi Ibraahiim pun memusyawarahkan hal ini kepada Ismaa’iil agar hatinya lebih ringan dan tenang ketimbang menyembelihnya secara paksa, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”

Maka, Ismaa’iil pun tanpa pikir panjang langsung menjawab, “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Sungguh ini sebuah jawaban yang menggambarkan keta’atan yang luar biasa yang ditunjukkan seorang anak kepada ayahnya dan kepada Allah Ta’ala

BEGINI CARA NABI ISMAIL DISEMBELIH

Firman Allah Ta’ala, “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibraahiim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya),” ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah keduanya telah berserah diri yaitu menyerah terhadap perintah Allah dan ber-azzam kepadaNya.

Firman Allah Ta’ala, “Ibraahiim membaringkan anaknya atas pelipis,” maksudnya ia akan menyembelihnya dari arah belakang agar Ismaa’iil tidak melihatnya pada saat disembelih, ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbaas, Mujaahid, Sa’iid bin Jubair, Qataadah dan Adh-Dhahhaak. Pendapat lain mengatakan bahwa Ibraahiim membaringkan Ismaa’iil sebagaimana membaringkan hewan kurban dan hanya pinggir lambungnya yang menempel tanah.

Firman Allah Ta’ala, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” maksudnya adalah Kami jadikan tebusan sembelihan anak beliau itu sesuatu yang Allah Ta’ala mudahkan baginya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa sembelihan itu berjenis kambing kibas berwarna putih, bermata lebar dan bertanduk, Nabi Ibraahiim melihatnya terikat di lembah.

Sumber: Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibn Kathir

MISTERI KAMBING PENGGANTI NABI ISMAIL

Al-Imam Ibnu Jariir Ath-Thabariy rahimahullah meriwayatkan : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Yamaan, dari Sufyaan, dari ‘Abdullaah bin ‘Iisaa, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” Ibnu ‘Abbaas berkata, “(Yaitu seekor kambing) yang digembalakan di surga selama empat puluh tahun.” Yang lain berkata, “Dikatakan, seekor kambing yang besar, karena ia dahulu merupakan sembelihan yang diterima.”

[Jaami’ul Bayaan 19/604] – Dalam sanadnya ada kelemahan, Ibnu Yamaan dia adalah Abu Zakariyaa Yahyaa bin Yamaan Al-‘Ijliy Al-Kuufiy, seorang yang shaaduq namun banyak keliru dan hapalannya berubah, demikian dikatakan Al-Haafizh rahimahullah.

Al-Imam Ibnu Abi Haatim rahimahullah meriwayatkan :
Telah menceritakan kepada kami Ayahku, telah menceritakan kepada kami Yuusuf bin Ya’quub Ash-Shaffaar, telah menceritakan kepada kami Daawud Al-‘Aththaar, dari Ibnu Khutsaim, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata, “Batu besar yang berada di Mina, berasal dari Tsabiir (yaitu gunung besar yang terletak antara Makkah dan ‘Arafah) yaitu batu besar tersebut yang digunakan Ibraahiim untuk menyembelih tebusan anaknya. Allah menurunkan kepada Ibraahiim dari Tsabiir tersebut seekor kambing yang bermata lebar, bertanduk dan mengembik, maka Ibraahiim pun menyembelihnya, dan kambing itu adalah kambing yang dijadikan qurban oleh anak Adam yang Allah terima darinya. Kemudian (dagingnya) disimpan hingga Ishaaq menebusnya.”

[Tafsiir Ibnu Abi Haatim no. 18233] – Sanadnya hasan. Ibnu Khutsaim adalah ‘Abdullaah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, Abu ‘Utsmaan Al-Qaariy Al-Makkiy, Al-Haafizh berkata ia shaduuq dan ia adalah perawi Al-Bukhaariy dalam At-Ta’aaliq dan Muslim dalam shahihnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *